Senin, 25 September 2017

Pengalaman Hamil dengan Diabetes

Hamil dengan Insulin
Hamil dengan Diabetes

Wanita dan diabetes memang perbincangan yang menarik.  Di komunitas Young Diabetic, topik ini termasuk paling seru dibahas dan menjadi diskusi yang panjaaaang.... apalagi kalau sudah membahas soal hamil...wah diskusi jadi ramai. Sepengetahuan saya, hamil dengan diabetes itu bisa saja dialami pada dua kondisi:
  1. Sudah terdiagnosa Diabetes Mellitus (DM) sebelum hamil. Ini biasanya dialami oleh penyandang diabetes yang terdiagnosa di usia muda (anak-anak hingga dewasa muda), baik DM Tipe 1 maupun DM Tipe 2.
  2. Terdiagnosa DM pada saat hamil, yang disebut sebagai Diabetes Gestasional. Gula darah tinggi baru terdeteksi pada saat hamil, dan biasanya setelah melahirkan kadar gula darah dapat kembali normal tetapi memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes ke depannya.
Saya sendiri memiliki pengalaman hamil dengan kondisi nomor 1. Artinya, saya sudah terdiagnosa diabetes sebelum hamil. Saat hamil Delisha (anak pertama kami), Alhamdulillah segalanya berjalan sesuai dengan harapan, gula darah cenderung dapat terkontrol dengan baik (kecuali pada trimester akhir, gula darah suka ajaib😂 naik turun gak karuan). Sementara pada kehamilan berikutnya, saya mengalami keguguran, yang salah satu penyebabnya karena gula darah sulit terkontrol sejak awal kehamilan.

Sebagai penyandang diabetes di usia muda (dan masih single), wajar rasanya ketika muncul kekhawatiran "gimana yaa nanti kalau hamil??" atau "aman ga yaa insulin untuk ibu hamil??". Ternyata, teteeuppp kunci utamanya: gula darah terkontrol. Dan tak perlu khawatir dengan insulin, karena aman untuk ibu hamil. Bahkan, insulin merupakan obat yang paling aman, lho! Hanya saja memang dosisnya perlu disesuaikan. Saya pernah membaca bahwa obat oral diabetes tidak dianjurkan untuk ibu hamil dengan diabetes. Jadi memang untuk ibu hamil dengan diabetes akan diarahkan pengobatannya dengan insulin. 

Sebelum menikah, saya banyak mencari informasi terkait kehamilan dengan diabetes. Ketika membaca resiko-resiko kehamilan dengan diabetes, lah kok saya malah jadi tambah galau😁.  Karena itu, saya betul-betul ingin mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa poin penting yang saya catat dari pengalaman hamil Delisha, yang saya jadikan patokan (target) untuk bisa dilakukan di kehamilan selanjutnya (meskipun pada kenyataannya saya lengah😢).

1. Masa pra hamil : gula darah terkontrol dengan baik

Ceritanya, saya dilamar sekitar 6 bulan sebelum hari pernikahan. Nah, semenjak itu saya lebih ketat mengontrol kadar gula darah saya. Saya pun berkonsultasi dengan dokter endokrin. Dokter mengatakan agar dapat melakukan program kehamilan, maka gula darah harus terkontrol dengan baik dan ditunjukkan dengan HbA1c <6,5%. Jadi, masa-masa pra pernikahan, bukan hanya kebaya, catering, kostum keluarga, gedung yang harus diurus, tetapi harus fokus juga dengan kadar gula darah hehe.. dan Alhamdulillah, HbA1c saya mencapai target (saya lupa tepatnya berapa, kalau ga salah di angka 6%). Jadi, saya bisa langsung program hamil setelah berstatus sebagai istri, yeaaay!

2. Konsultasi ke ahli gizi

Tiga bulan setelah menikah, saya dinyatakan positif hamil. Lalu oleh dokter penyakit dalam, saya disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi karena kebutuhan kalori harian menjadi bertambah saat hamil. Ahli gizi akan mengarahkan makanan yang sebaiknya dikonsumsi berikut dengan takaran jumlahnya.
 
3. Kadar gula darah terkontrol selama hamil

Setelah positif hamil, tugas berikutnya adalah menjaga kadar gula darah tetap terkontrol. Sebetulnya agak sulit juga kalau selama hamil kepingin makan ini itu, tapi demi si buah hati, cobalah diatur agar jumlahnya ga berlebihan.  Bagi saya sendiri, selama hamil paling sedikit gula darah dicek 4x dalam sehari : bangun tidur, sebelum makan siang, dan malam hari.  Ketika hamil Delisha, saya agak keteteran menjaga gula darah pada trimester akhir. Kalau ditanya penyebabnya? entahlah, saya tak tau pasti, mungkin karena hormon atau karena rasa lapar yang lebih di trimester akhir namun tidak diimbangi dengan dosis insulin yang tepat. Karena pada trimester akhir ini, saya membutuhkan dosis insulin 2x lipat dibandingkan di awal kehamilan.

4. Pemeriksaan rutin dengan dokter penyakit dalam dan dokter kandungan/bidan

Selama hamil, pemeriksaan rutin tetap dilakukan tidak hanya ke dokter kandungan/bidan, tetapi juga ke dokter spesialis penyakit dalam. Awalnya saya berkonsultasi dengan dokter endokrin dewasa di RS Prikasih (Pondok Labu) dan dokter kandungan di RS Hasanah Graha Afiah (Depok). Tetapi pada akhirnya, saya memutuskan untuk kontrol pada satu atap rumah sakit saja, dan saya memutuskan untuk kontrol di RS Hasanah Graha Afiah. Pertimbangannya, karena dekat rumah dan agar saat persalinan nantinya dokter penyakit dalam dan dokter kandungan sama-sama sudah mengetahui kondisi saya. Saat saya mengutarakan keinginan saya untuk pindah kontrol ke RS HGA, dokter penyakit dalam berpesan untuk mengecek kadar gula darah bayi saat lahir nanti. Pada kondisi ibu dengan diabetes, ada resiko hipoglikemia (gula darah rendah di bawah batas normal) pada bayi jadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah bayi.
5. Ikhtiar dan Tawakal

Nah, yang terakhir ini yang paling penting menurut saya yaitu sertai ikhtiar dengan tawakal.  Senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dan kelancaran selama hamil dan proses persalinan, serta dikaruniai bayi yang sehat sempurna.  Segala kemampuan dan potensi yang sudah dikerahkan, kembalikan segalanya kepada Allah SWT. Bersyukur ketika hamil hingga persalinan diberi kelancaran dan kemudahan, namun ketika Allah berkehendak lain, percaya bahwa rencana Allah adalah yang terbaik. Seperti saat keguguran, mungkin memang belum saatnya Delisha punya adik saat itu.

Kalau Delisha sendiri lahir melalui operasi caesar. Awalnya saya kekeuh ingin lahiran normal, tapi menurut dokter, panggul saya sempit dan sebetulnya sudah ada pembukaan tapi bayinya tidak turun-turun. Di tengah kegalauan (karena masih berharap bisa lahiran normal), suami  meyakinkan dan menguatkan saya untuk terima saran dokter. Suami bilang hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya, tak masalah dengan operasi caesar (so sweeeeeeettt hehe). Dua hari sebelum jadwal caesar, saya mengalami pecah ketuban sehingga persalinan menjadi lebih awal dari rencana. Tapi bukan berarti ibu hamil dengan diabetes tak bisa lahiran normal yaa... bisa banget. 

Setelah pengalaman hamil dengan diabetes, saya juga ingin berbagi pengalaman memberikan ASI. Karena Alhamdulillah (lagi-lagi bersyukur), Delisha mendapatkan ASI hingga usia 25 bulan. Kalau mengingat saat pemberian ASI Eksklusif (hingga usia 6 bulan), apalagi saya sebagai working mom, memang perjuangannya cukup berat (sampai ada drama nangis bombay hehehehe). Insya Allah, dibahas di tulisan selanjutnya yaa... 😀. 



2 komentar:

  1. Assalamualaikum.. salam kenal mbak.. alhamdulillah ada blog yg share pengalaman kehamilan dengan diabetes.. saya juga hidup dengan diabetes.. diagnosis di awal tahun 2017 dengan tipe DM 1,5 atau LADA.. pengen hamil lagi anak kedua tapi kata dokter harus observasi dlu hasil GD nya.. karena msh belum stabil.. tks ya mbak sharingnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumussalam... salam kenal juga Mba Ayu.. usia brp Mbak terdiagnosanya? Semangat Mbak... Oya..gabung yuk Mbak di Komunitas Penyandang DM Usia Muda....

      Hapus

Diabetes Basah atau Diabetes Kering???

When I tell someone, I have diabetes.... "Diabetesnya basah apa kering???" Wah.. ini tanggapan sekaligus pertanyaan sepert...