Tampilkan postingan dengan label Perkenalan Awal dengan Diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkenalan Awal dengan Diabetes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Agustus 2017

Berkenalan dengan Insulin

"Jangan pake insulin nanti ketergantungan loh!"
"Kalau pakai insulin nanti pankreasnya manja dan gak mampu memproduksi insulin lagi."
"Si itu... sembuh sakit gulanya.. pake daun kelor"
"Kalau sakit gula ya udah stop aja makan gula, beres kan!

Ini hanya sebagian dari komentar orang ketika tau bahwa saya adalah penyandang diabetes dan rutin injeksi insulin 4x sehari.  Cuma komentar yang terakhir itu bener-bener ngajak berantem hehehe... (nasi yang kita makan pun akan diolah menjadi gula di dalam tubuh kan?)

Memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan injeksi insulin setiap hari memang ga mudah! Saya sempat menolak saran dokter untuk beralih ke insulin. Berbagai kekhawatiran dan pertanyaan muncul di benak saya:
"Saya ga berani nyuntik!"
"Nanti ketergantungan! Emang aman??"
"Pasti nanti repot!!"
"Insulin kan mahal, biayanya??"

Setelah berbagai drama kumbara yang saya lalui saat pertama terdiagnosa diabetes, akhirnya dengan segenap kekuatan yang tersisa (hehe lebay) saya memutuskan menggunakan insulin untuk mengontrol gula darah saya yang ga mau turun-turun itu. Bisa baca kisah awalnya disini Ketika Dokter Salah Mendiagnosa: Ternyata Diabetes!.  Allah SWT menjawab kekhawatiran saya atas harga insulin dapat dibaca disini Reimbursement, ASKES, dan BPJS.

Gambaran saya tentang suntik insulin itu seperti suntik imunisasi anak gitu, (ada suntikan berjarum panjang dan cairannya di botol terpisah) tapi ternyata saya salah! Ternyata designnya modern, jarumnya tipis dan kecil, tak perlu repot-repot membawa suntikan dan cairan terpisah, kalau pergi-pergi cukup taruh di tas atau di kantong pun bisa.  Jenis insulin yang pertama kali saya gunakan adalah NovoMix 30 FlexPen. Ini adalah jenis insulin campuran atau kerja menengah. Injeksi dilakukan 2x sehari, yaitu pagi dan malam hari sebelum makan.  Kurang lebih selama 2 tahun saya menggunakan insulin jenis ini.

Novomix 30 Flexpen
Source : NovoMix 30 Flexpen

Sayangnya, saya belum bisa mengelola diabetes dengan baik meskipun sudah melakukan terapi dengan jenis insulin NovoMix ini. HbA1c masih belum bisa mencapai nilai yang direkomendasikan. Masih berkisar di angka 9%, susyaaaahh banget untuk dpt nilai normal!  Saya akan hipo kalau terlewat makan snack pada jam 10 pagi, dan selanjutnya gula darah akan tinggi setelah makan siang. Meskipun gula darah belum terkontrol dengan baik, tapi ada sesuatu yang membuat saya melonjak kegirangan : berat badan saya berangsur-angur naik (salah satu efek samping insulin adalah berat badan bertambah)!!

Pernah juga dokter mengganti dengan jenis insulin kerja panjang (Levemir).  Ternyata saya makin kewalahan kontrol gula darahnya! Penyuntikkan dilakukan 1x sehari sebelum tidur, namun menjelang pagi saya akan hipo, lalu setelah makan siang hingga malam gula darah tinggi diatas normal.. hiks. Tak lama saya mencoba terapi dengan dosis dan jenis insulin seperti ini, kemudian dokter menggantinya kembali dengan NovoMix.
Levemir Flexpen
Source : Levemir FlexPen
Nah... kemudian barulah saya mengenal insulin basal bolus ketika saya pindah rawat jalan ke RSUP Fatmawati. Saya konsultasi dengan dr. Ida Ayu, Sp.PD, KEMD, dimana beliau adalah dokter endrokrin dewasa (beliau ini ahlinya tiroid dan diabetes).  Sejak saat itu, saya menggunakan insulin kerja cepat/pendek (NovoRapid) dan insulin kerja lambat/panjang (Levemir atau Lantus).  NovoRapid digunakan untuk mengendalikan gula darah setiap kali makan besar (sarapan, makan siang, dan makan malam). Sedangkan Lantus (atau Levemir keduanya sama-sama jenis insulin jangka panjang) digunakan untuk mengendalikan gula darah selama puasa, misalnya saat tidur atau ketika sedang tidak makan (karena hati di dalam tubuh juga menghasilkan gula). Jadi, 4x dalam sehari injeksi insulin dilakukan: 3x jenis kerja cepat dan 1x jenis kerja lambat.

Novorapid Flexpen untuk penyandang diabetes
Penampakan NovoRapid FlexPen

Novorapid dengan jarum novotwist
Saya menggunakan jarum Novotwist untuk pasangan Si Orange

Lantus solostar insulin jangka panjang
Lantus disuntikkan sehari sekali (kalau saya biasanya sore atau magrib)

Jarum BD Ultra-fine 4 mm jadi pasangan Lantus (yg merah2 di tutupnya itu tulisan JKN 😁)

Alhamdulillah... semenjak menggunakan insulin basal bolus, gula darah saya lebih terkontrol. HbA1c pun mencapai target,  dikasaran angka 6%, sesekali pernah juga di angka 5%-an tapi jaraaaang hehe. Bersyukur, bersyukur, lagi lagi bersyukur.

Lalu apa betul insulin ini menyebabkan ketergantungan?  Hmm... mungkin bukan 'ketergantungan' tetapi menambahkan sesuatu yang tidak mampu dihasilkan dalam jumlah yang cukup. Sepertinya lebih tepat menggunakan kata 'kebutuhan' daripada 'ketergantungan'.  Bukan hanya penyandang diabetes, tetapi setiap manusia yang hidup membutuhkan insulin. Ketika pankreas tidak mampu produksi insulin dalam jumlah yang cukup,maka diperlukan tambahan insulin dari luar (informasi ini pernah saya dapatkan dari sebuah seminar tentang diabetes). Untuk penyandang diabetes tipe 1, insulin memang mutlak diperlukan. Berbeda dengan penyandang diabetes tipe 2 yang memiliki beberapa pilihan untuk mengelola diabetes, bisa obat oral, injeksi insulin, berolahraga, dsb.

Yang paling penting dalam terapi insulin ini adalah manajemen diri. Dokter tidak bisa selalu setiap saat memantau kondisi kita (bagi yg penyandang DM yaa). Menjaga kadar gula darah adalah pekerjaan 24 jam sehari, tak peduli kita tidur sekalipun. Kunci utamanya ada di diri kita sendiri. Kita yang tau apa yang kita makan, bagaimana aktivitas fisik kita, olahraga yang kita lakukan, apakah ada stres, sakit, kapan masa-masa haid (khusus wanita), dsb.

Kadang-kadang berat memang kalau mengelola DM hanya untuk kepentingan diri sendiri (suka ga tega ngeliat es krim dan cokelat lumer kalau numpang lewat doang ga dicicip hehe), tetapi kalau didedikasikan pula untuk orang-orang tersayang.. Insya Allah mereka bisa membuat kita istiqomah mengelola DM. Sehat bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang yang kita sayang😍.

Jumat, 28 Juli 2017

Berdamai dengan Diabetes

Berdamai dengan Diabetes

"Sepertinya mengarah ke diabetes mellitus, tapi nanti kita lihat dulu hasil laboratoriumnya ya" dokter menyampaikan diagnosanya kepada saya. Skema yang terbentuk di pikiran saya tentang diabetes bermunculan. Ayah saya meninggal akibat serangan jantung yang dipicu oleh diabetes, ada pula tetangga saya yang luka di kakinya tak sembuh-sembuh karena diabetes, pernah juga saya membaca kisah seorang ibu yang kakinya diamputasi karena diabetes. Saya bertanya-tanya dalam hati, "Apakah ini tandanya hidup saya tidak akan lama lagi? apa artinya saya tidak bisa hidup normal seperti teman-teman lainnya?"

Sedih, malu, khawatir rasanya bercampur aduk. Sedih karena kata dokter, diabetes belum bisa disembuhkan. Malu karena saya tak mau orang-orang tau kalau saya terkena diabetes. Khawatir karena saya tak tau apakah saya dan Ibu punya cukup uang untuk biaya pengobatannya dan apakah saya masih bisa makan es krim, pecel ayam (laahh???). Tapi setidaknya saya lega mengetahui apa yang terjadi pada diri saya. Saya belum siap mendengar komentar orang-orang, karena itu saya menyimpan ini sebagai rahasia (tapi tetep ajaaaa Si Mamah ga bisa diajak kompromi hehehe).

Selepas itu, banyak saran-saran datang ke kami untuk pengobatan diabetes, seperti brotowali, mahoni, daun kelor, dan entah apa lagi (karena urusan obat-obat tradisional ini Ibu saya yang urus, pokoknya saya tinggal minum, glek..glek..uweeek!! Pait!!). Pengobatan alternatif dengan terapi-terapi juga saya jalani. Mula-mula saya sangat bersemangat dan berharap bisa sembuh, tapi lama kelamaan saya merasa semuanya sia-sia karena gula darah tetap tinggi.  Sebenarnya kadang-kadang saya tak mau mencoba semua saran tetangga dan kerabat, tapi melihat Ibu saya begitu sungguh-sungguh dan berharap anaknya bisa sembuh, sebagai rasa hormat saya kepada Ibu, akhirnya saya jalani juga.

Kebetulan sekali, saat saya terdiagnosa diabetes, saya bekerja di kantor kas bank yang berada di dalam gedung Rumah Sakit Kanker Dharmais. Selama bekerja, saya bisa melihat orang-orang yang sedang diuji kesehatannya datang untuk berobat dengan berbagai kondisi. Saya bisa melihat bahwa apa yang terjadi pada saya patut disyukuri.  Tak baik berlarut-larut menyesali keadaan. Bukankah Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya? Artinya, saya mampu melalui ini.

Saya masih ingat, sekitar 5 bulan setelah terdiagnosa, pikiran saya mulai terbuka. Saya datang ke Gramedia dan mencari buku-buku tentang diabetes.  Salah satu buku yang sangat berkesan adalah buku berjudul "Bersahabat dengan Diabetes" yang ditulis oleh Epie Suryono (yang kemudian saya dapat mengenal beliau secara langsung saat saya berobat rutin di RSUP Fatmawati).  Saya juga memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan insulin, karena berbagai obat oral yang pernah saya konsumsi tidak banyak membantu menurunkan kadar gula darah saya.

Saya mulai berpikir, saya akan menjalani sisa hidup saya bersama diabetes. Saya tak mau merepotkan Ibu dan orang-orang yang saya sayangi dengan mengurus dan memikirkan saya apabila saya sakit-sakitan, jadi saya harus sehat! Saya akan berkeluarga, punya anak, mengurus suami dan anak (mungkin saat itu pikiran saya terlalu jauh, tapi yaa memang begitulah saya hehe) karena itu saya harus sehat! Daaan sehat itu tidak berarti harus sembuh, hidup sebagai penyandang diabetes pun bisa sehat dan melakukan aktivitas seperti orang tanpa diabetes. Kuncinya, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diabetes.


Ada beberapa hal yang saya coba tanyakan kepada diri sendiri :
"Apa yang saya inginkan dengan keadaan seperti ini?" saya ingin sembuh!
"Apa yang saya inginkan setelah sembuh?" saya ingin bahagia, bisa melakukan aktivitas apapun dan makan makanan yang saya suka (contoh: nasi uduk pecel ayam, eaaaa).
"Apa artinya kalau belum sembuh tidak akan bahagia?" Tidak dong, saya tidak ingin seperti itu.
Baiklah, kalau begitu saya langsung saja mencapai tujuan akhir, yaitu bahagia, meskipun belum bisa sembuh. Kuncinya, bersyukur. Tetap ikhtiar, tetap tawakal. Tiada yang tidak mungkin apabila Allah SWT telah berkehendak.

Akhirnya, saya berusaha keras untuk mengontrol gula darah.  Sebagai pemula, ini memang terasa sulit awalnya. Saya merasakan mengontrol kadar gula darah dengan insulin lebih efektif, dibandingkan dengan pengobatan-pengobatan sebelumnya yang sudah saya coba.  Gula darah saya bisa mencapai nilai normal. Wah, senangnya luar biasa! Tugas saya selanjutnya adalah menjaganya agar tetap normal.  Berat badan saya berangsur-angsur mulai naik. Saya mulai membiasakan diri berolahraga. Dan yang tidak kalah asyiknya, ternyata saya tetap bisa makan makanan kesukaan saya (tapi syarat dan ketentuan tetap berlaku yaaa). Ternyata saya tetap bisa beraktivitas seperti orang-orang tanpa diabetes. Bahkan orang-orang tak menyangka kalau saya ini penyandang diabetes. Jadilah, si diabetes yang tadinya nyebelin, eeehhh sekarang malah jadi sahabat asyik!!!


Sabtu, 22 Juli 2017

Ketika Dokter Salah Mendiagnosa : Ternyata Diabetes!

Diabetes usia muda

Tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2010, kondisi kesehatan saya memburuk.  Saya merasa dari hari ke hari tubuh ini melemah, mudah sekali kecapekan.  Awalnya saya tak menghiraukannya, saya pikir mungkin hanya perasaan saja karena tingkat pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi ekstra, tapi kok lama-lama semakin terasa ada yang tidak beres. Puncaknya, saat mengikuti pelatihan Basic Training yang diadakan perusahaan bagi pegawai baru, saya tak sanggup berdiri, selalu muntah ketika mencoba berdiri, pusing, dan mual. Akhirnya teman-teman yang baru saya kenal di tempat pelatihan pun membawa saya ke klinik terdekat. Dokter mendiagnosa saya terkena sakit maag. Obat-obatan yang diresepkan dokter pun saya minum, tapi sakit tak kunjung sembuh.

Sebulan kemudian, karena kondisi tak kunjung membaik, Ibu mengantarkan saya berobat ke klinik dekat rumah, karena lokasi klinik pertama cukup jauh dari rumah.  Dokter menyarankan untuk cek darah (tapi sayang cek darah yang dilakukan tidak termasuk cek kadar gula darah).  Menurut dokter, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa saya sakit tipes. Meskipun telah meminum obat yang diresepkan dokter, anehnya kondisi saya malah semakin memburuk.  Saya pun mencoba obat-obatan alternatif untuk menyembuhkan sakit tipes (sesuai diagnosa dokter) seperti obat cacing. Namun, kondisi saya tetap tak membaik.

Karena kondisi saya semakin memprihatinkan, akhirnya saya dan ibu kembali ke dokter.  Namun kami datang ke dokter yang berbeda lagi. Dokter ketiga ini bisa dibilang dokter keluarga kami, karena sejak saya dan kakak-kakak masih kecil, kami selalu berobat ke dokter tersebut.  Dokter menjawab dengan santai bahwa tak perlu khawatir, ini sakit yang biasa saja.  Dokter tidak memberi informasi lengkap, sakit apa sebenarnya yang saya derita.  Saya pun diresepkan obat, yang kemudian saya minum sesuai anjuran.
  
Sayangnya, resep obat yang ketiga ini pun tidak membuat kondisi saya membaik. Dari hari ke hari kondisi saya semakin parah. Ibu saya mengatakan bahwa badan saya dingin, tapi saya merasakan badan saya panas. Malam hari saya tak bisa tidur tanpa mendekap es batu karena merasa tubuh ini amat panas. Kulit saya pun menjadi sangat kering dan sangaaat bersisik. Saya pun pernah mengompol di kantor (serius, ini memalukan banget!) dan juga mengompol di perjalanan saat pulang kantor.  Saya tak kuat berjalan lama. Pernah saya tak sanggup berjalan dan terduduk di tengah jembatan penyebrangan sambil menahan tangis.

Kakak saya menyarankan untuk berobat herbal.  Saya melakukan bekam dan terapi sengat lebah.  Sang terapis, yang juga merupakan saudara, mengatakan bahwa ada gangguan di saluran kemih (hampiiiir tepat!). Obat-obat herbal yang diberikan pun saya minum, tapi kondisi saya tetap memprihatinkan.  Jika malam tiba, saya akan memanggil-manggil Ibu saya untuk minta disediakan es batu. Lalu es batu itu saya peluk hingga saya tertidur.  Tengah malam saya terbangun karena kaki terasa kram dan tak bisa digerakkan. Berat badan saya semakin turun, dengan tinggi 165 cm, berat badan saya hanya 39 kg. Kurus parah!

Karena tak sembuh-sembuh juga, saya dan ibu kembali ke ke dokter. Saat itu saya berpikir, mungkin saya salah karena selalu datang ke dokter yang berbeda sehingga diagnosa yang ditegakkan menjadi kurang tepat.  Akhirnya, saya dan ibu kembali ke dokter ketiga. Diluar dugaan, dokter mengatakan bahwa penyakit yang saya derita bisa saja berasal dari sesuatu yang nonmedis.  Saya masih ingat ketika dokter mengatakan, "Coba kamu ingat-ingat, apa ada orang yang sudah kamu sakiti? nanti sampai rumah kamu tulis permintaan maaf melalui sms dan dikirim ke semua kontak yang ada di HP ya."  Haaaahhhh???????? kok yaaaa malah bikin saya makin pening.  Dokter pun mengatakan bahwa bisa saja ini karena depresi.  Whaaaatttttt???!!!!!!

Alhamdulillah, esok harinya kakak ipar saya datang untuk membawa saya ke RSUD Pasar Rebo (beruntung bukan dibawa ke orang 'pintar' hehehe).  Sesampainya di RS, kami disarankan untuk datang ke poli spesialis penyakit dalam.  Ternyata antriiiiii booo...... Saya duduk di ruang tunggu sambil bolak balik ke kamar mandi.  Tiba saatnya saya masuk ke ruang dokter, dan seperti biasanya dokter menanyakan keluhan yang dirasa. Disini, Ibu sempat berkata "kayaknya anak saya sering banget buang air kecil dok." Kemudian dokter pun menanyakan beberapa hal yang tepat sekali pada sasaran. "Ada riwayat keluarga yang diabetes? sering haus berlebihan? tadinya berat badan berapa?" Jlepp!! Diabet?? Sakit gula??? Saya????Gubrak!

Dokter menyampaikan sepertinya mengarah ke diabetes mellitus, tapi untuk memastikan akan dilihat dari hasil laboratorium nanti.  Betul saja, hasil lab menunjukkan kadar gula darah 604 mg/dL dan HbA1c >14%. Oya, hasil kolesterol juga agak tinggi yaitu sekitar 230 mg/dL, kata dokter, gula darah dan kolesterol ini ibaratnya temenan, kalau gula darah tinggi kolesterol bisa ikut naik juga.  Berat badan saya turun sekitar 7 kg.  Memang sejak kecil saya kurus (bahkan teman-teman memanggil saya dengan sebutan 'Si Cungkring') dan tambah kurus lagi sejak kena diabet..huhuhu...

Usia saya 22 tahun dan saya terdiagnosa diabetes. Beberapa bulan saya mencoba obat diabetes oral, namun gula darah masih tetap tinggi di atas nilai normal.  Segala macam cara saya coba untuk menurunkan gula darah, mulai dari tidak makan nasi, merebus semua makanan, mengurangi jumlah makan, olahraga, tapi tetap saja gula darahnya bandel tak mau turun.  Sesuai saran tetangga dan kerabat, saya juga minum berbagai jenis daun-daunan yang katanya bisa menurunkan gula darah, menelan biji mahoni yang pahitnya minta ampun, minum rebusan batang pohon mahoni, bahkan rebusan air arang (masih banyak hal lainnya tapi saya lupa). Ikhtiar saya tak sampai disitu, saya juga mengunjungi berbagai tempat pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit (naik turun bus kota sampai-sampai saya dan ibu kesasar). Kalau diingat-ingat kembali, saya suka senyum-senyum sendiri hehe... Hasilnya???gula darah tetap bandel! tetap tinggi!!

Meskipun saya mencoba obat-obat tradisional tetapi saya tetap kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit dalam. Akhirnya, dokter menguatkan saya untuk beralih ke suntikan insulin (karena sebelumnya sudah disarankan untuk menggunakan insulin tapi saya kekeuh ga mau).  Saya masih ingat bagaimana ketika akhirnya saya setuju menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. Dokter mengeluarkan sesuatu seperti pena dari laci mejanya, yang tak disangka-sangka itu adalah insulin pen.  Nanti tentang insulin akan kita bahas sendiri ya.. (tapi sabar ya..tunggu bocah tidur baru bisa nulis hehe).  Kembali ke cerita awal ketika dokter salah mendiagnosa!

Sebetulnya, saya tau kalau saya lebih sering buang air kecil (terutama saat malam hari). Tapi saya menganggap ini bukan keluhan penyakit karena merasa hal ini wajar (toh minum saya memang banyak bahkan sangat banyak) sehingga hal ini tidak saya sampaikan ketika dokter menanyakan keluhan yang dirasa. Saya juga sering merasa lapar yang berlebihan, lagi-lagi saya merasa ini wajar karena saya bekerja. Jadi, saya pikir ini bukanlah suatu gejala penyakit. Enak makan, enak tidur, banyak minum, kok dibilang sakit? hehe.... rasanya tidak seperti gejala penyakit (hehe itulah kenapa diabetes sering disebut juga sebagai 'the silent killer'). Selain itu, saya juga merasa penglihatan mulai kabur, saya tak dapat melihat dengan jelas jam dinding menunjukkan pukul berapa (tapi saya pikir : mungkin saya butuh kacamata!).

Gejala-gejala utama yang seperti ini justru tidak tersampaikan ke dokter dan dokter pun kurang dapat menggali lebih banyak keluhan yang dirasakan pasien.  Akibatnya, yaa seperti yang saya alami, salah diagnosa!  Sebenarnya, saya bukanlah orang yang baru mendengar istilah 'diabetes'. Ayah saya wafat di usia 58 tahun (tepatnya 8 tahun sebelum saya terdiagnosa diabetes) karena serangan jantung yang diduga dipicu diabetes yang dideritanya beberapa tahun terakhir. Obat-obatan untuk diabetes selalu tersedia di meja makan kami.  Ayah pun sering berpesan kepada kami, anak-anaknya, agar jangan berlebihan mengkonsumsi yang manis-manis karena diabetes itu menurun.

Meskipun tidak terdengar asing di telinga saya, sayangnya saya tidak membekali diri dengan pengetahuan seputar diebetes.  Harusnya saya bisa lebih waspada, karena dengan riwayat keluarga yang terkena diabetes, saya memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes. Tapi siapa sangka saya terdiagnosa di usia muda? bukankah selama ini setau saya yang sakit gula adalah orang-orang yang sudah tua saja? Barulah saya tau ternyata diabetes itu tidak mengenal usia, muda atau tua, bahkan bayi saja ada yang terkena diabetes. Jadi, jangan pernah mengabaikan gejala-gejala seperti yang saya sebutkan diatas! Yuk, segera cek ke dokter! Bahkan jika memang memiliki resiko tinggi terkena diabetes, tak ada salahnya mengecek kadar gula secara berkala👌.

Diabetes Basah atau Diabetes Kering???

When I tell someone, I have diabetes.... "Diabetesnya basah apa kering???" Wah.. ini tanggapan sekaligus pertanyaan sepert...