Sabtu, 22 Juli 2017

Ketika Dokter Salah Mendiagnosa : Ternyata Diabetes!

Diabetes usia muda

Tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2010, kondisi kesehatan saya memburuk.  Saya merasa dari hari ke hari tubuh ini melemah, mudah sekali kecapekan.  Awalnya saya tak menghiraukannya, saya pikir mungkin hanya perasaan saja karena tingkat pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi ekstra, tapi kok lama-lama semakin terasa ada yang tidak beres. Puncaknya, saat mengikuti pelatihan Basic Training yang diadakan perusahaan bagi pegawai baru, saya tak sanggup berdiri, selalu muntah ketika mencoba berdiri, pusing, dan mual. Akhirnya teman-teman yang baru saya kenal di tempat pelatihan pun membawa saya ke klinik terdekat. Dokter mendiagnosa saya terkena sakit maag. Obat-obatan yang diresepkan dokter pun saya minum, tapi sakit tak kunjung sembuh.

Sebulan kemudian, karena kondisi tak kunjung membaik, Ibu mengantarkan saya berobat ke klinik dekat rumah, karena lokasi klinik pertama cukup jauh dari rumah.  Dokter menyarankan untuk cek darah (tapi sayang cek darah yang dilakukan tidak termasuk cek kadar gula darah).  Menurut dokter, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa saya sakit tipes. Meskipun telah meminum obat yang diresepkan dokter, anehnya kondisi saya malah semakin memburuk.  Saya pun mencoba obat-obatan alternatif untuk menyembuhkan sakit tipes (sesuai diagnosa dokter) seperti obat cacing. Namun, kondisi saya tetap tak membaik.

Karena kondisi saya semakin memprihatinkan, akhirnya saya dan ibu kembali ke dokter.  Namun kami datang ke dokter yang berbeda lagi. Dokter ketiga ini bisa dibilang dokter keluarga kami, karena sejak saya dan kakak-kakak masih kecil, kami selalu berobat ke dokter tersebut.  Dokter menjawab dengan santai bahwa tak perlu khawatir, ini sakit yang biasa saja.  Dokter tidak memberi informasi lengkap, sakit apa sebenarnya yang saya derita.  Saya pun diresepkan obat, yang kemudian saya minum sesuai anjuran.
  
Sayangnya, resep obat yang ketiga ini pun tidak membuat kondisi saya membaik. Dari hari ke hari kondisi saya semakin parah. Ibu saya mengatakan bahwa badan saya dingin, tapi saya merasakan badan saya panas. Malam hari saya tak bisa tidur tanpa mendekap es batu karena merasa tubuh ini amat panas. Kulit saya pun menjadi sangat kering dan sangaaat bersisik. Saya pun pernah mengompol di kantor (serius, ini memalukan banget!) dan juga mengompol di perjalanan saat pulang kantor.  Saya tak kuat berjalan lama. Pernah saya tak sanggup berjalan dan terduduk di tengah jembatan penyebrangan sambil menahan tangis.

Kakak saya menyarankan untuk berobat herbal.  Saya melakukan bekam dan terapi sengat lebah.  Sang terapis, yang juga merupakan saudara, mengatakan bahwa ada gangguan di saluran kemih (hampiiiir tepat!). Obat-obat herbal yang diberikan pun saya minum, tapi kondisi saya tetap memprihatinkan.  Jika malam tiba, saya akan memanggil-manggil Ibu saya untuk minta disediakan es batu. Lalu es batu itu saya peluk hingga saya tertidur.  Tengah malam saya terbangun karena kaki terasa kram dan tak bisa digerakkan. Berat badan saya semakin turun, dengan tinggi 165 cm, berat badan saya hanya 39 kg. Kurus parah!

Karena tak sembuh-sembuh juga, saya dan ibu kembali ke ke dokter. Saat itu saya berpikir, mungkin saya salah karena selalu datang ke dokter yang berbeda sehingga diagnosa yang ditegakkan menjadi kurang tepat.  Akhirnya, saya dan ibu kembali ke dokter ketiga. Diluar dugaan, dokter mengatakan bahwa penyakit yang saya derita bisa saja berasal dari sesuatu yang nonmedis.  Saya masih ingat ketika dokter mengatakan, "Coba kamu ingat-ingat, apa ada orang yang sudah kamu sakiti? nanti sampai rumah kamu tulis permintaan maaf melalui sms dan dikirim ke semua kontak yang ada di HP ya."  Haaaahhhh???????? kok yaaaa malah bikin saya makin pening.  Dokter pun mengatakan bahwa bisa saja ini karena depresi.  Whaaaatttttt???!!!!!!

Alhamdulillah, esok harinya kakak ipar saya datang untuk membawa saya ke RSUD Pasar Rebo (beruntung bukan dibawa ke orang 'pintar' hehehe).  Sesampainya di RS, kami disarankan untuk datang ke poli spesialis penyakit dalam.  Ternyata antriiiiii booo...... Saya duduk di ruang tunggu sambil bolak balik ke kamar mandi.  Tiba saatnya saya masuk ke ruang dokter, dan seperti biasanya dokter menanyakan keluhan yang dirasa. Disini, Ibu sempat berkata "kayaknya anak saya sering banget buang air kecil dok." Kemudian dokter pun menanyakan beberapa hal yang tepat sekali pada sasaran. "Ada riwayat keluarga yang diabetes? sering haus berlebihan? tadinya berat badan berapa?" Jlepp!! Diabet?? Sakit gula??? Saya????Gubrak!

Dokter menyampaikan sepertinya mengarah ke diabetes mellitus, tapi untuk memastikan akan dilihat dari hasil laboratorium nanti.  Betul saja, hasil lab menunjukkan kadar gula darah 604 mg/dL dan HbA1c >14%. Oya, hasil kolesterol juga agak tinggi yaitu sekitar 230 mg/dL, kata dokter, gula darah dan kolesterol ini ibaratnya temenan, kalau gula darah tinggi kolesterol bisa ikut naik juga.  Berat badan saya turun sekitar 7 kg.  Memang sejak kecil saya kurus (bahkan teman-teman memanggil saya dengan sebutan 'Si Cungkring') dan tambah kurus lagi sejak kena diabet..huhuhu...

Usia saya 22 tahun dan saya terdiagnosa diabetes. Beberapa bulan saya mencoba obat diabetes oral, namun gula darah masih tetap tinggi di atas nilai normal.  Segala macam cara saya coba untuk menurunkan gula darah, mulai dari tidak makan nasi, merebus semua makanan, mengurangi jumlah makan, olahraga, tapi tetap saja gula darahnya bandel tak mau turun.  Sesuai saran tetangga dan kerabat, saya juga minum berbagai jenis daun-daunan yang katanya bisa menurunkan gula darah, menelan biji mahoni yang pahitnya minta ampun, minum rebusan batang pohon mahoni, bahkan rebusan air arang (masih banyak hal lainnya tapi saya lupa). Ikhtiar saya tak sampai disitu, saya juga mengunjungi berbagai tempat pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit (naik turun bus kota sampai-sampai saya dan ibu kesasar). Kalau diingat-ingat kembali, saya suka senyum-senyum sendiri hehe... Hasilnya???gula darah tetap bandel! tetap tinggi!!

Meskipun saya mencoba obat-obat tradisional tetapi saya tetap kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit dalam. Akhirnya, dokter menguatkan saya untuk beralih ke suntikan insulin (karena sebelumnya sudah disarankan untuk menggunakan insulin tapi saya kekeuh ga mau).  Saya masih ingat bagaimana ketika akhirnya saya setuju menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. Dokter mengeluarkan sesuatu seperti pena dari laci mejanya, yang tak disangka-sangka itu adalah insulin pen.  Nanti tentang insulin akan kita bahas sendiri ya.. (tapi sabar ya..tunggu bocah tidur baru bisa nulis hehe).  Kembali ke cerita awal ketika dokter salah mendiagnosa!

Sebetulnya, saya tau kalau saya lebih sering buang air kecil (terutama saat malam hari). Tapi saya menganggap ini bukan keluhan penyakit karena merasa hal ini wajar (toh minum saya memang banyak bahkan sangat banyak) sehingga hal ini tidak saya sampaikan ketika dokter menanyakan keluhan yang dirasa. Saya juga sering merasa lapar yang berlebihan, lagi-lagi saya merasa ini wajar karena saya bekerja. Jadi, saya pikir ini bukanlah suatu gejala penyakit. Enak makan, enak tidur, banyak minum, kok dibilang sakit? hehe.... rasanya tidak seperti gejala penyakit (hehe itulah kenapa diabetes sering disebut juga sebagai 'the silent killer'). Selain itu, saya juga merasa penglihatan mulai kabur, saya tak dapat melihat dengan jelas jam dinding menunjukkan pukul berapa (tapi saya pikir : mungkin saya butuh kacamata!).

Gejala-gejala utama yang seperti ini justru tidak tersampaikan ke dokter dan dokter pun kurang dapat menggali lebih banyak keluhan yang dirasakan pasien.  Akibatnya, yaa seperti yang saya alami, salah diagnosa!  Sebenarnya, saya bukanlah orang yang baru mendengar istilah 'diabetes'. Ayah saya wafat di usia 58 tahun (tepatnya 8 tahun sebelum saya terdiagnosa diabetes) karena serangan jantung yang diduga dipicu diabetes yang dideritanya beberapa tahun terakhir. Obat-obatan untuk diabetes selalu tersedia di meja makan kami.  Ayah pun sering berpesan kepada kami, anak-anaknya, agar jangan berlebihan mengkonsumsi yang manis-manis karena diabetes itu menurun.

Meskipun tidak terdengar asing di telinga saya, sayangnya saya tidak membekali diri dengan pengetahuan seputar diebetes.  Harusnya saya bisa lebih waspada, karena dengan riwayat keluarga yang terkena diabetes, saya memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes. Tapi siapa sangka saya terdiagnosa di usia muda? bukankah selama ini setau saya yang sakit gula adalah orang-orang yang sudah tua saja? Barulah saya tau ternyata diabetes itu tidak mengenal usia, muda atau tua, bahkan bayi saja ada yang terkena diabetes. Jadi, jangan pernah mengabaikan gejala-gejala seperti yang saya sebutkan diatas! Yuk, segera cek ke dokter! Bahkan jika memang memiliki resiko tinggi terkena diabetes, tak ada salahnya mengecek kadar gula secara berkalađź‘Ś.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diabetes Basah atau Diabetes Kering???

When I tell someone, I have diabetes.... "Diabetesnya basah apa kering???" Wah.. ini tanggapan sekaligus pertanyaan sepert...