Jumat, 02 Februari 2018

Diabetes Basah atau Diabetes Kering???


When I tell someone, I have diabetes....

"Diabetesnya basah apa kering???"

Wah.. ini tanggapan sekaligus pertanyaan seperti ini tak jarang saya dapatkan ketika seseorang baru saja tau kalau saya adalah penyandang diabetes. Saya bisa memakluminya, memang kenyataannya seperti itu.. sepertinya diabetes basah dan kering ini lebih dikenal masyarakat awam ketimbang istilah diabetes tipe 1, tipe 2, gestasional, apalagi jenis lainnya.  Tetapi ketika pertanyaan ini dilontarkan oleh penyandang DM ataupun orang-orang terdekat penyandang DM, disitu saya merasa sedih... hehehe (lah..sedih kok cengengesan). Saya punya beberapa pengalaman percakapan dengan beberapa teman, seperti ini ni..

Cerita 1

Saya teringat dengan percakapan saya dengan seorang penyandang diabetes tipe 2. Ia masih muda, usianya tak jauh dari saya dan ia terdiagnosa diabetes 6 tahun yang lalu. Nah, sedikit saya ringkat percakapan kami lainnya yang kurang lebih seperti ini (T: Teman, S: Saya).

T : "Iya geng, dulu tahun 2012 pernah kena diabetes, tapi kena gula kering. Dulu dokter pernah kasih obat tapi ga bertahan lama minum obatnya. Selama kena gula kering berat badan turun sampai 18 kg padahal makan cukup banyak."
S  : "Kapan terakhir ke dokter dan gula darah terakhir berapa?

T : "Terakhir periksa ke dokter tahun 2014, waktu itu kalo ga salah gulanya 200/300."

S : "Eh.. btw itu cek gula darah terakhir tahun 2014 juga???"

T : "Iya geng."
S : *!?#* hweewww

***

Cerita 2

Ada pula kejadian lainnya, seorang teman membuka percakapan dengan saya, sepertinya ia ingin mengetahui kondisi saya lebih jauh (Ibu dari teman saya ini adalah penyandang DM Tipe 2).

T : "Ooooh... kamu diabet ya?"

S : "Iya"
T : "Diabetnya basah atau kering, kayaknya gula kering ya?"
S : "Hmm.. saya diabetes tipe 1 Mba.."
T : "Sekarang gula darahnya berapa?"
S : "Hmm.. yaaa pokoknya dikontrol aja asal jangan lebih dari 180"


***

Kedua lawan bicara saya pada cerita tersebut adalah diabetesi dan anggota keluarga diabetesi.  Kenapa saya merasa sedih?? karena dulu ini pernah terjadi pada saya. Ayah saya adalah seorang penyandang dibetes tipe 2, tapi sayang sekali saya tak pernah mau mengenal diabetes lebih jauh, hingga akhirnya 8 tahun setelah Ayahanda wafat, saya mengalami gejala yg sama dengan ayah saya dulu, tetapi saya tidak cepat tanggap bahwa itu adalah gejala diabetes hingga tiga dokter salah mendiagnosa dan saya tidak cepat mendapat penanganan yang tepat. Kisah saya tersebut bisa dibaca disini Ketika Dokter Salah Mendiagnosa, Ternyata Diabetes!.

Sejauh yang saya tau (dari edukasi ataupun seminar2), ada beberapa tipe diabetes diantaranya diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan gestasional. Dari pada tipe-tipe diabetes tersebut, masyarakat awam memang sepertinya lebih familiar dengan istilah diabetes basah dan kering.  Biasanya masyarakat menyebut diabetes basah apabila diabetesi mudah terluka dan lukanya sulit sembuh, sedangkan diabetes kering apabila penyandang diabetes terluka namun lukanya cepat kering/sembuh. Padahal sebetulnya diabetes basah dan kering itu tidak termasuk dalam klasifikasi diabetes.

Saya pernah mengikuti kelas edukasi diabetes. Saya pun mendapat banyak penjelasan tentang diabetes. Luka yang sulit sembuh memang termasuk salah satu gejala diabetes. Nah.. disitu juga saya jadi tau ternyata kuncinya adalah gula darah terkontrol. Apabila gula darah terkontrol, maka meskipun penyandang diabetes terluka, maka proses penyembuhannya akan sama dengan orang sehat pada umumnya. Namun, apabila gula darah tidak terkontrol, maka bisa saja luka menjadi sulit sembuh bahkan malah menjadi tambah parah.

Edukasi diabetes memang penting banget untuk diabetesi dan juga keluarga dekatnya.  Pada cerita 1, saya kaget mengetahui teman saya ini terakhir cek gula darah pada tahun 2014, artinya itu 4 tahun yg lalu..hiks..hiks. Dengan edukasi diabetes, maka diabetesi jadi tau bahwa gula darah itu sangat fluktuatif (lebih fluktuatif dari harga cabe hehehe). Misalnya saja, gula darah bangun tidur bisa berbeda dengan gula darah setelah sarapan, karena itu menjaga kadar gula darah adalah pekerjaan 24 jam sehari. Bagaimana dia bisa tau gula darahnya terkontrol atau tidak, kalau cek gula darahnya 4 tahun yang lalu???? OMG!!

Kalau pada cerita 2, ada pertanyaan yang dulu saya suka bingung menjawabnya : "sekarang gulanya berapa?". Kenapa dulu saya bingung?? karena yang saya tau gula darah terakhir yang saya ambil, meskipun itu baru tadi pagi. Aktivitas yang saya lakukan, cemilan yang saya makan, tentu saja akan mempengaruhi kadar gula darah. Apalagi saya ini melakukan terapi dengan insulin, jadi memang harus lebih sering dikontrol gula darahnya. Misalnya tadi pagi bangun tidur saya cek dengan glukometer menunjukkan angka 100 mg/dL, lalu di siang hari setelah makan siang bisa saja gula darah saya 225 mg/dL, dan begituuu seterusnya. Kalau sekarang sih.. saya udah ga bingung lagi, saya akan menjawab : "yaa..dikontrol saja, jangan lebih dari 180." Jadi, bukan berarti karena kontrol ke dokternya sebulan sekali dan ambil darah juga hanya sebulan sekali saja sebelum datang ke dokter, lantas gula darahnya akan tetap sama hingga sebulan ke depan yaa..😀



Sabtu, 20 Januari 2018

Hari Diabetes Sedunia Tahun 2017


Yaaaahh emang ini tulisannya udah basi yaaa haha.. udah masuk tahun 2018 baru mengulas kegiatan Hari Diabetes Sedunia Tahun 2017. Saya dan teman-teman dari Young Leader-Persadia turut hadir pada kegiatan tersebut, yang tepatnya dilaksanakan pada tanggal 12 November 2017 lalu. Sebetulnya, Hari Diabetes Sedunia jatuh pada tanggal 14 November, tapi "mungkin yaa" karena tanggal tsb jatuh pada hari Selasa, maka acara dimajukan pada hari Minggu tanggal 12 November di Lapangan Parkir Park and Ride Thamrin (CFD Sudirman), Jakarta. Oya, kampanye yang digalakkan Tropicana Slim pada acara kali ini adalah #Hands4Diabetes

Acaranya seruuuu, karena bisa cek gula gratis, senam sehat, jalan santai, daaann yang paling seru tentunya bisa ketemu teman-teman sesama penyandang diabetes. Biasanya kami berinteraksi via Whatsapp, jadi ketika ada momen yang bisa mengumpulkan kami semua itu tentunya sangat ditunggu-tunggu. Ketika saya datang ke lokasi, saya sempat kebingungan mencari sahabat-sahabat saya karena peserta yang hadir banyak sekali.  Berdasarkan informasi yang saya dapat dari beberapa seminar diabetes bahwa populasi penyandang Diabetes Melitus Tipe 1 itu hanya 10% dari total diabetesi yang ada di seluruh Indonesia. Jadi, mayoritas (90%) penyandang diabetes di Indonesia adalah Diabetes Melitus Tipe 2. Populasi kami memang sedikit yaa dibanding penyandang DM Tipe 2, tapi kami ada loh hehe..





Rabu, 11 Oktober 2017

Pengalaman Menyusui pada Ibu Bekerja Penyandang Diabetes

Menyusui itu memang sebuah proses yang indah dan menyenangkan, namun penuh perjuangan. Bagi seorang working mother, tantangan untuk dapat memberikan ASI Eksklusif dan melanjutkan pemberian ASI hingga sang buah hati berusia 2 tahun, tidaklah mudah.  Saya pernah menjalani ini dan saya hampir saja menyerah ketika si kecil berusia 4 bulan. Bukan hanya memikirkan ASI Perahan (ASIP) yang harus cukup untuk kebutuhan si kecil, tetapi sebagai seorang diabetesi, juga harus terus mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil. Harus tetap konsisten memerah ASI meskipun di kantor lagi hectic, tidak ada alasan untuk tidak pumping. Maklum, saya ini termasuk emak-emak yang kejar tayang stok ASIP-nya. Jadi, kalau jadwal pumping kacau, bisa bahaya! bisa-bisa stok ASIP ga cukup!

Saya pernah bertanya kepada dokter anak yang biasa menangani Delisha (anak pertama kami), "Dok, apa saya tetap bisa menyusui?" dan kata beliau, ibu dengan diabetes tetap dapat memberikan ASI dan harus tetap menjaga kadar gula darah tetap terkontrol. Alhamdulillah...jadi makin semangat ciiinnnn.. pumpingnya!!!

Artikel mengenai Aspek Hormonal Air Susu Ibu dalam website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyebutkan bahwa ASI mengandung hormon dan faktor pertumbuhan yang berperan dalam proses pematangan saluran cerna terutama fungsi kekebalan dan ketahanan terhadap penyakit. Pemberian ASI eksklusif bersifat protektif terhadap penyakit Diabetes Mellitus tipe I dan 2, serta obesitas. Ibu dengan penyakit endokrin relatif aman untuk menyusui (sumber : Aspek Hormonal Air Susu Ibu ). Jadi, selama tidak ada halangan untuk memberikan ASI (tidak ada indikasi medis yang membahayakan ibu maupun bayi), sudah sepatutnya memang ASI ini diperjuangkan. 

Delisha lahir melalui operasi caesar dengan berat badan 3,6 kg (gede yaaa mak). Salah satu resiko ibu hamil dengan diabetes memang melahirkan bayi besar (giant baby). Pada trimester akhir kehamilan, gula darah saya kurang terkontrol, cenderung tinggi.  Alhamdulillah, proses menyusui di awal kelahiran Delisha berjalan lancar.  Hari terakhir di rumah sakit, saya mendapat kabar hasil lab Delisha menunjukkan bilirubin yang sedikit tinggi (12 mg/dl) dan dokter menyarankan agar Delisha disinar untuk menurunkan kadar bilirubinnya.  Akhirnya saya pulang ke rumah, sementara Delisha masih di rumah sakit untuk terapi sinar biru (hiks..hiks..sedih banggeeeettt). Disinilah pertama kali saya memerah ASI.

Pertama kali memerah ASI, saya menggunakan alat perah fasilitas dari rumah sakit. Kemudian saya lanjutkan memerah ASI dirumah, lalu kemudian hasil ASIP yang telah dikumpulkan dikirim ke rumah sakit (yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah) selama Delisha ada disana.  Dokter memberitahu bahwa selama disinar, bayi akan lebih sering haus karena panas dari sinar tersebut.  Apabila ternyata ASIP yang saya berikan kurang, maka saya setuju agar Delisha mendapatkan tambahan susu formula (sufor) untuk menghindari dehidrasi. 

Jadi sebetulnya, di awal kelahirannya, Delisha sempat mendapatkan sufor. Sedih juga sih, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan ASIP yang banyak.  Untungnya Delisha tak lama disinar, setelah 1 hari menjalani terapi sinar, Delisha diperbolehkan pulang.
Saya mendapat cuti hamil 1 bulan sebelum melahirkan dan 2 bulan pasca melahirkan. Jadi, selama 2 bulan saya stok ASIP dan terkumpul sekitar 60 botol (1 botol 100 ml). Banyak loh tantangan utk menyetok ASIP! salah satunya rasa lelah akibat kurang tidur selalu dijadikan alasan untuk menunda-nunda pumping.

Karena ngASI ini sudah jadi prioritas saya, maka segala resiko harus siap dijalani.  Tantangan yang dihadapi ibu bekerja penyandang diabetes, yang sangat memberikan kesan adalah adanya resiko hipoglikemia saat menyusui, Delisha alergi protein susu sapi, stok ASIP yang kejar tayang, dan gejala bingung puting saat Delisha berusia 4 bulan.

1. Resiko Hipoglikemia Saat Menyusui

Pengalaman saya, menyusui ataupun memerah ASI dapat memberikan efek penurunan kadar gula darah. Jadi, saat menyusui atau memerah ASI, perlu diwaspadai terjadinya hipoglikemia (kadar gula darah rendah dibawah normal). Gejala yang ditunjukkan antara lain pandangan mulai gelap, badan gemetar, keluar keringat dingin, tampak linglung, dsb. Karena itu, penting untuk selalu sedia permen ataupun makanan/minuman manis lainnya selama menyusui ataupun saat pumping.  Gak lucu kan... kalo pingsan saat menyusui atau saat pumping...😟

2. Si Kecil Alergi Protein Susu Sapi

Saat usia Delisha belum genap 3 bulan, ada sesuatu yang mengkhawatirkan saya yaitu sudah 2x BAB Delisha ada lendir-lendir darah. Esok harinya saya membawa Delisha ke rumah sakit. Sayangnya, dokter yang biasa menangani Delisha sedang cuti Umroh. Padahal, saya dan suami sudah merasa cocok dengan dokter tersebut. Akhirnya kami, memilih dokter yang ada jadwal praktik saat itu. Delisha diberi resep obat, ada 3 jenis obat dan salah satunya adalah antibiotik. Sesampai di rumah, saya terus memandangi antibiotik itu. Lalu saya minta izin ke suami untuk tidak memberikan antibiotik dan obat-obatan lainnya, ada keyakinan dalam diri saya bahwa Delisha tidak perlu diberi antibiotik.

Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke rumah sakit karena dokter yang biasa menangani Delisha sudah praktik (dr. Rianita Syamsu, Sp.A). Ternyata firasat saya betul, Delisha tidak perlu antibiotik. Menurut dr. Rianita, Delisha alergi protein susu sapi. Dokter menyarankan agar saya menghindari susu sapi beserta turunannya. Whoaaa!!! "beserta turunannya!!!" Apa saya sanggup menyatakan selamat tinggal kepada kue kering, es krim, roti, kue basah, yoghurt, daannn yang sedap-sedap lainnya??? Alamaaaakkk semuanya enak-enak😍


buang air besar pada bayi dengan lendir darah
BAB dengan Lendir Darah (Dokumentasi Pribadi)
Memang saya perhatikan, Delisha tergolong cukup sering BAB, selain itu Delisha juga sering gumoh mengeluarkan kembali ASI yang diminumnya. Dampaknya, pertambahan berat badan Delisha cenderung minim, pernah dalam satu bulan berat badan Delisha hanya naik 135 gram.  Ketika saya stop protein susu sapi, berat badan Delisha naik cukup bagus dan frekuensi BAB-nya berkurang.  Namun, ketika saya mulai curi-curi makan kue, Delisha mulai lagi menunjukkan gejala alerginya. Karena ASI adalah prioritas saya, jadi yaaaa saya STOP protein susu sapi. Saya hanya makan nasi, lauk pauk, dan buah.  Tutup mata aja sama snack box yang disuguhin waktu rapat..hiks... (makanan dan minuman yang dipantang itu saat ada di hadapan seakan menari-nari minta dikunyah dan ditelan😑) Dan ini berlangsung hingga Desliha berusia 13 bulan. Ketika Delisha berusia 12 bulan, saya pernah coba makan yang mengandung protein susu sapi dan Delisha masih menunjukkan gejala alergi.

Lalu yang jadi kekhawatiran saya adalah "Bagaimana dengan stok ASIP selama kurang lebih 3 bulan ke belakang????? itu kan diperah saat saya masih mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung protein susu sapi????" Bismillah... saya tetap memberikannya kepada Delisha. Memang sih, ketika Delisha masih diberikan ASIP tersebut, kenaikan berat badannya masih cenderung minim. Tetapi saya yakin ASI tetap yang terbaik, dan saya tak akan tega jika mengingat perjuangan mengumpulkannya. Jadi, saya tetap teruskan pemberian ASI untuk Delisha. Semangat ngASI!!!

3. Stok ASIP Kejar Tayang

"De, nyusunya kuat banget, habis 7 botol" Ibu saya memberikan laporan saat saya tiba di rumah sepulang kerja. Whuaaaaa... saya salah prediksi!!! Saya sampaikan ke Ibu dan Bude (panggilan pengasuh Delisha yang juga dulunya sempat mengasuh saya saat kecil), nanti selama ditinggal kerja (kurang lebih dari jam 7 pagi s/d 5 sore) Delisha dikasih 5 botol ASI (1 botol isi 100 ml) artinya Delisha diberi ASI setiap 2 jam sekali. Karena hasil penelitian kecil-kecilan saya kepada teman-teman, rata-rata kebutuhan ASI anaknya selama ditinggal kerja (10 jam) yaa segitu 5 botol.  Lah.. ini Delisha 7 botol, berarti selisih 200 ml.  Kalau saya pulang terlambat sedikit, jadi 8 botol (sambil garuk-garuk kepala😂).

Maka dari itu, saya harus konsisten pumping! jangan sampai terlewat jadwal pumpingnya karena stok ASIP yang kejar tayang.  Selama di kantor, saya 3x pumping: sekitar jam setengah 10, jam istirahat siang, dan sore menjelang pulang.  Kalau saya harus pulang telat dari kantor, maka ada ekstra tambahan pumping 1x lagi di sore hari.  Nanti, setelah sampai rumah, taruh tas, cuci tangan (ga pake mandi dulu😄) langsung pumping lagi. ASI itu unik, semakin sering dikeluarkan, maka produksinya akan semakin banyak. Saya memang sengaja mengosongkan payudara sebelum menyusui Delisha saat tiba di rumah, tujuannya agar semakin banyak ASI yang diproduksi. Pumping dilanjutkan kembali saat tengah malam dan pagi dini hari.  Begitu rutinitas setiap hari sampai Delisha berusia 6 bulan. Yaahh beginilah kalau kejar tayang mak.....

Selama memberikan ASI Eksklusif ini, berat badan saya turun drastis. Saat hamil, berat badan naik 12 kg, lalu saat menyusui turun hingga 16 kg.  Jadi, dengan tinggi badan 165 cm berat badan saya saat menyusui sekitar 46 kg, lebih kurus dari sebelum hamil (pada dasarnya memang saya kurus pisan). Tetapi kemudian berat badan berangsur-angsur naik setelah memperkenalkan Delisha dengan MPASI, karena kebutuhan ASI yang berkurang. Jadi, kalau mayoritas ibu-ibu senang bisa turun berat badan yang banyaaaak saat menyusui, kalau saya malah sebaliknya😁.

4. Gejala Bingung Puting

Ketika Delisha berusia 4 bulan, stok ASIP saya hanya hitungan jari. Ditambah lagi, Delisha tampaknya mulai menunjukkan gejala bingung puting.  Sedihnya lagi, hasil perahan juga semakin sedikit. Wah.. pada waktu itu saya betul-betul hampir menyerah. Saya tau kalau penyebab bingung puting adalah karena menggunakan dot untuk memberikan ASIP pada Delisha. Tapi, saya tak tega kalau harus merepotkan Ibu saya dan Bude dengan memberikan ASIP melalui media lain. Saya sudah berusaha memperkenalkan media lain (sepertinya saya kurang sungguh-sungguh) dan lebih memilih menggunakan dot yang memang lebih praktis.

Delisha mengenal dot saat ia baru berusia beberapa hari saat disinar di rumah sakit. Setelah itu, ia hanya menyusui langsung tanpa menggunakan dot selama saya cuti melahirkan.  Saat ia berusia 2 bulan dan saya kembali bekerja, Delisha mulai minum ASI melalui dot kembali. Memang tidak mudah memperkenalkannya dengan sendok, gelas, ataupun pipet untuk minum ASIP, selain memang saya juga tidak sungguh-sungguh memperkenalkannya. 

Saya masih ingin berjuang untuk ASI Eksklusifnya Delisha (yaaahh... walaupun sebenarnya sudah pernah dikasih sufor saat baru lahir). Sayang bangeeett kalau harus berhenti di usianya yang 4 bulan. Keras kepala emang diperlukan untuk keberhasilan ASI Eksklusif. Karena saya tak mau merepotkan Ibu saya dan Bude dengan memberikan ASIP menggunakan media lain selain dot, maka saya harus mencari cara lain.

Saya putuskan untuk ambil jatah cuti tahunan. Selama cuti, saya menyusui langung, tak ada dot selama cuti! Setiap 2 jam sekali, ASI selalu diperah bahkan saat tengah malam dan pagi dini hari. Jangan sampai jatah cuti terbuang sia-sia.  Tetes demi tetes ASI terus dikumpulkan untuk menambah stok ASIP di kulkas.  Atas dorongan dari suami saya (ini suami yang ngajak loh!💓), saya bersama suami menemui konselor laktasi yg tak lain adalah istri dari bosnya suami di kantor.  Disitu saya mendapat banyak masukan terutama mengenai manfaat ASI yang luar biasa, salah satunya mengenai pentingnya ASI bagi kekebalan tubuh anak. Support dari orang-orang terdekat emang sangaaat mempengaruhi keberhasilan ASI Eksklusif loh!

Alhamdulillah... masa-masa genting bingung puting ini terlewati juga... dan akhirnyaaa yang ditunggu-tunggu yaitu memperkenalkan MPASI ketika Delisha berusia 6 bulan. Saya bisa sedikit bernafas lega, karena artinya kebutuhan ASI semakin berkurang karena sudah dapat tambahan MPASI.  Apalagi ketika sudah menginjak usia 1 tahun, pemberian ASI dengan cara menyusui langsung saat Ibu berada di rumah, sudah cukup memenuhi kebutuhan ASI si kecil (begitu informasi yang saya dapat saat mengikuti kelas Edukasi MPASI). Jadi, kalau memang tak ada stok ASIP saat ibu bekerja, tak masalah karena kebutuhan ASI si kecil setelah berusia 1 tahun adalah 30% (saat < 6 bulan kebutuhannya 100%). Pemberian ASI pun terus dilanjutkan hingga Delisha disapih pada usia 25 bulan.

Yuk, ibu-ibu semangat ngASI-nya ya!

Senin, 25 September 2017

Pengalaman Hamil dengan Diabetes

Hamil dengan Insulin
Hamil dengan Diabetes

Wanita dan diabetes memang perbincangan yang menarik.  Di komunitas Young Diabetic, topik ini termasuk paling seru dibahas dan menjadi diskusi yang panjaaaang.... apalagi kalau sudah membahas soal hamil...wah diskusi jadi ramai. Sepengetahuan saya, hamil dengan diabetes itu bisa saja dialami pada dua kondisi:
  1. Sudah terdiagnosa Diabetes Mellitus (DM) sebelum hamil. Ini biasanya dialami oleh penyandang diabetes yang terdiagnosa di usia muda (anak-anak hingga dewasa muda), baik DM Tipe 1 maupun DM Tipe 2.
  2. Terdiagnosa DM pada saat hamil, yang disebut sebagai Diabetes Gestasional. Gula darah tinggi baru terdeteksi pada saat hamil, dan biasanya setelah melahirkan kadar gula darah dapat kembali normal tetapi memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes ke depannya.
Saya sendiri memiliki pengalaman hamil dengan kondisi nomor 1. Artinya, saya sudah terdiagnosa diabetes sebelum hamil. Saat hamil Delisha (anak pertama kami), Alhamdulillah segalanya berjalan sesuai dengan harapan, gula darah cenderung dapat terkontrol dengan baik (kecuali pada trimester akhir, gula darah suka ajaib😂 naik turun gak karuan). Sementara pada kehamilan berikutnya, saya mengalami keguguran, yang salah satu penyebabnya karena gula darah sulit terkontrol sejak awal kehamilan.

Sebagai penyandang diabetes di usia muda (dan masih single), wajar rasanya ketika muncul kekhawatiran "gimana yaa nanti kalau hamil??" atau "aman ga yaa insulin untuk ibu hamil??". Ternyata, teteeuppp kunci utamanya: gula darah terkontrol. Dan tak perlu khawatir dengan insulin, karena aman untuk ibu hamil. Bahkan, insulin merupakan obat yang paling aman, lho! Hanya saja memang dosisnya perlu disesuaikan. Saya pernah membaca bahwa obat oral diabetes tidak dianjurkan untuk ibu hamil dengan diabetes. Jadi memang untuk ibu hamil dengan diabetes akan diarahkan pengobatannya dengan insulin. 

Sebelum menikah, saya banyak mencari informasi terkait kehamilan dengan diabetes. Ketika membaca resiko-resiko kehamilan dengan diabetes, lah kok saya malah jadi tambah galau😁.  Karena itu, saya betul-betul ingin mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa poin penting yang saya catat dari pengalaman hamil Delisha, yang saya jadikan patokan (target) untuk bisa dilakukan di kehamilan selanjutnya (meskipun pada kenyataannya saya lengah😢).

1. Masa pra hamil : gula darah terkontrol dengan baik

Ceritanya, saya dilamar sekitar 6 bulan sebelum hari pernikahan. Nah, semenjak itu saya lebih ketat mengontrol kadar gula darah saya. Saya pun berkonsultasi dengan dokter endokrin. Dokter mengatakan agar dapat melakukan program kehamilan, maka gula darah harus terkontrol dengan baik dan ditunjukkan dengan HbA1c <6,5%. Jadi, masa-masa pra pernikahan, bukan hanya kebaya, catering, kostum keluarga, gedung yang harus diurus, tetapi harus fokus juga dengan kadar gula darah hehe.. dan Alhamdulillah, HbA1c saya mencapai target (saya lupa tepatnya berapa, kalau ga salah di angka 6%). Jadi, saya bisa langsung program hamil setelah berstatus sebagai istri, yeaaay!

2. Konsultasi ke ahli gizi

Tiga bulan setelah menikah, saya dinyatakan positif hamil. Lalu oleh dokter penyakit dalam, saya disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi karena kebutuhan kalori harian menjadi bertambah saat hamil. Ahli gizi akan mengarahkan makanan yang sebaiknya dikonsumsi berikut dengan takaran jumlahnya.
 
3. Kadar gula darah terkontrol selama hamil

Setelah positif hamil, tugas berikutnya adalah menjaga kadar gula darah tetap terkontrol. Sebetulnya agak sulit juga kalau selama hamil kepingin makan ini itu, tapi demi si buah hati, cobalah diatur agar jumlahnya ga berlebihan.  Bagi saya sendiri, selama hamil paling sedikit gula darah dicek 4x dalam sehari : bangun tidur, sebelum makan siang, dan malam hari.  Ketika hamil Delisha, saya agak keteteran menjaga gula darah pada trimester akhir. Kalau ditanya penyebabnya? entahlah, saya tak tau pasti, mungkin karena hormon atau karena rasa lapar yang lebih di trimester akhir namun tidak diimbangi dengan dosis insulin yang tepat. Karena pada trimester akhir ini, saya membutuhkan dosis insulin 2x lipat dibandingkan di awal kehamilan.

4. Pemeriksaan rutin dengan dokter penyakit dalam dan dokter kandungan/bidan

Selama hamil, pemeriksaan rutin tetap dilakukan tidak hanya ke dokter kandungan/bidan, tetapi juga ke dokter spesialis penyakit dalam. Awalnya saya berkonsultasi dengan dokter endokrin dewasa di RS Prikasih (Pondok Labu) dan dokter kandungan di RS Hasanah Graha Afiah (Depok). Tetapi pada akhirnya, saya memutuskan untuk kontrol pada satu atap rumah sakit saja, dan saya memutuskan untuk kontrol di RS Hasanah Graha Afiah. Pertimbangannya, karena dekat rumah dan agar saat persalinan nantinya dokter penyakit dalam dan dokter kandungan sama-sama sudah mengetahui kondisi saya. Saat saya mengutarakan keinginan saya untuk pindah kontrol ke RS HGA, dokter penyakit dalam berpesan untuk mengecek kadar gula darah bayi saat lahir nanti. Pada kondisi ibu dengan diabetes, ada resiko hipoglikemia (gula darah rendah di bawah batas normal) pada bayi jadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah bayi.
5. Ikhtiar dan Tawakal

Nah, yang terakhir ini yang paling penting menurut saya yaitu sertai ikhtiar dengan tawakal.  Senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dan kelancaran selama hamil dan proses persalinan, serta dikaruniai bayi yang sehat sempurna.  Segala kemampuan dan potensi yang sudah dikerahkan, kembalikan segalanya kepada Allah SWT. Bersyukur ketika hamil hingga persalinan diberi kelancaran dan kemudahan, namun ketika Allah berkehendak lain, percaya bahwa rencana Allah adalah yang terbaik. Seperti saat keguguran, mungkin memang belum saatnya Delisha punya adik saat itu.

Kalau Delisha sendiri lahir melalui operasi caesar. Awalnya saya kekeuh ingin lahiran normal, tapi menurut dokter, panggul saya sempit dan sebetulnya sudah ada pembukaan tapi bayinya tidak turun-turun. Di tengah kegalauan (karena masih berharap bisa lahiran normal), suami  meyakinkan dan menguatkan saya untuk terima saran dokter. Suami bilang hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya, tak masalah dengan operasi caesar (so sweeeeeeettt hehe). Dua hari sebelum jadwal caesar, saya mengalami pecah ketuban sehingga persalinan menjadi lebih awal dari rencana. Tapi bukan berarti ibu hamil dengan diabetes tak bisa lahiran normal yaa... bisa banget. 

Setelah pengalaman hamil dengan diabetes, saya juga ingin berbagi pengalaman memberikan ASI. Karena Alhamdulillah (lagi-lagi bersyukur), Delisha mendapatkan ASI hingga usia 25 bulan. Kalau mengingat saat pemberian ASI Eksklusif (hingga usia 6 bulan), apalagi saya sebagai working mom, memang perjuangannya cukup berat (sampai ada drama nangis bombay hehehehe). Insya Allah, dibahas di tulisan selanjutnya yaa... 😀. 



Sabtu, 12 Agustus 2017

Gigi Susu Bolong, Perlu Ditambal???


Saya baru menyadari kalau Delisha (anak pertama kami) yang saat itu berusia 2 tahun, giginya banyak yang bolong. Meskipun baru berusia 2 tahun, tapi giginya ada 6 yang bolong (3 sebelah kiri, 2 sebelah kanan, 1 di bagian depan) 😟  Sepertinya kesalahan terjadi bukan pada anaknya tapi pada emaknya yang males ajak anaknya sikat gigi sebelum tidur.

Awalnya, saya masih rajin sikat gigi Delisha sebelum tidur (tanpa pasta gigi karena Delisha belum bisa kumur-kumur) tetapi ternyata tengah malam dia terbangun dan minta susu UHT. Akhirnyaaaaa saya menganggap percuma aja ngajak sikat gigi sebelum tidur kalau nanti beberapa jam lagi dia minum susu dan emaknya yang lagi super ngantuk males nyikatin gigi tengah malem. Selain itu juga anaknya minum susu sambil merem... yaa sudahlah...

Kalau ditanya, "anaknya suka makan coklat kali?"  Hmm.. Delisha ini Papahnya banget, lebih suka rasa buah-buahan ketimbang rasa cokelat. Cokelat batanganpun dia kurang suka, persis Papahnya!
Pertanyaan lainnya, "anaknya suka makan permen?" Nah.. ini mah emaknya galak banget soal ini. Maklum yak..emaknya ini penyandang diabetes, jadiii urusan permen ataupun softdrink emang rada galak. Kadang Delisha suka makan permen tapi masih tergolong jarang. 

Awalnya saya ragu apakah harus ditambal atau tidak? karena giginya masih gigi susu yang toh nantinya juga akan ganti dengan gigi tetap. Tiba-tiba saya teringat keponakan saya yang kira-kira saat ia berusia 5 tahun mengeluhkan giginya yang sakit. Keponakan saya ini takut banget ke dokter gigi, jadinya dia lebih memilih menahan rasa sakit pada giginya itu ketimbang pergi ke dokter gigi. Ga tega juga liatnya.

Belajar dari pengalaman keponakan saya itu, saya ga mau menunggu Delisha mengeluh sakit pada giginya. Saya mendapat saran dari seorang dokter gigi, sebaiknya memang gigi Delisha ditambal meskipun usianya baru 2 tahun karena lapisan email pada gigi susu itu lebih tipis dari gigi tetap, jadi biasanya bolong mudah sekali membesar. Karena itulah, saya mencari cara agar Delisha mau menambal giginya dan ga takut pergi ke dokter gigi. Alhamdulillah... cara ini berhasil! Begini beberapa cara yang saya terapkan kepada Delisha.
1.  Agar terbiasa dan tidak takut, ajak anak ke dokter gigi terlebih dahulu sebagai perkenalan
Kebetulan saya dan neneknya Delisha ada keperluan ke dokter gigi untuk tambal gigi. Sengaja saya ajak Delisha agar dia melihat segala prosesnya. Dia tidak tampak takut, malah dia mengangis karena tidak ikut diperiksa😁
2.  Tunjukkan bahwa ke dokter gigi itu menyenangkan



Ketika saya dan neneknya Delisha diperiksa, kami tidak menampakkan rasa takut dan sakit. Saya juga menjelaskan kepada Delisha pentingnya memeriksakan gigi ke dokter gigi dan Alhamdulillah Delisha bisa mengerti.

3.  Hindari mengajak ke dokter ketika anak mengantuk

Untuk anak seusia Delisha, kalau sudah ngantuk.. duuh... bener-bener rungsing! semua serba salah. Bisa-bisa nanti dia rungsing di klinik atau malah di ruang parktik dokter, bahaya kan! Jadi, saya usahakan untuk mengatur pertemuan dengan dokter di waktu-waktu Delisha bermain dan bukan waktunya tidur.
4.  Pangku anak saat proses penambalan

Kalau ini saya juga baru tau setelah masuk ke ruang praktik. Dokter menyarankan agak Delisha dipangku agar dia lebih nyaman. Ternyata betul, awalnya ketika Delisha tidak dipangku, dia kelihatan bingung dan tidak mau duduk di posisi pasien. Namun, setelah dipangku dia tampak santai dan menurut saja apa perintah dokter.  Selain itu, saya juga bisa sambil memegang kedua tangannya.
5.  Ajak anak jalan-jalan sebentar setelah tambal gigi

Setelah tambal gigi, dokter akan menyarankan agar tidak makan dan minum selama 1 jam, atau tidak makan selama 2 jam namun diperbolehkan minum. Nah... biasanya untuk killing time, saya ajak Delisha menghabiskan waktu di minimarket sambil memilih-milih makanan yang dia suka. Lumayan lah.. bisa sekitar 15 menit di minimarket hehe...

6.  Beri hadiah yang dia suka 

Bolehlah saya memberi reward kepada Delisha atas sikap dia yang kooperatif selama tambal gigi.  Rewardnya yaa.. sekalian jalan-jalan ke minimarket itu, biasanya Delisha akan minta jajanan yang biasanya jarang saya kasih.. hehehe.. seperti jajanan gurih-gurih kriuk gitu.
7.  Jangan tunggu lubang pada gigi semakin parah

Jadi, kata dokter, untuk menambal gigi anak-anak sebisa mungkin tidak dilakukan bor gigi (apa ya istilah medisnya saya ga tau hehe). Tapi kalau terpaksa karena sudah kena syaraf, ya mau tidak mau dilakukan pengeboran. Berdasrakan pengalaman pribadi, kalau sudah kena syaraf itu pasti terasa sakit. Nah.. kalau terjadi pada anak kecil takutnya mereka akan kapok dan ga mau balik ke dokter gigi lagi. Jadi, sebisa mungkin kalau emmang ada lubang yang harus ditambal segera saja ke dokter gigi jangan menunggu parah. 
Nah.. itu tadi beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadi saya. Berhubung kami ke dokter gigi dengan memanfaatkan BPJS, jadi kami dalam sehari hanya dapat dilakukan satu tindakan. Untuk enam lubang pada gigi susu Delisha artinya kami harus enam kali ke dokter gigi (seminggu sekali). Alhamdulillah, sejauh ini sudah empat lubang yang ditambal dan Delisha konsisten kooperatif selama tambal gigi. Pernah juga sekali ada gigi yang dibor, dan dia tampak biasa saja, gak sakit katanya!😄





Jumat, 11 Agustus 2017

Woody Super Ice Cream

pintu masuk woody super ice cream
Pintu masuk Woody Super Ice Cream

Karena 2 hari belakangan ini saya suka galak sama Kaka Sasha, jadilah saya merencanakan kejutan misteri untuknya sebagai tanda permintaan maaf.
"Ayo bun buka kejutan misterinya.." bujuk Sasha dengan gembira.
"Eeh.. kejutan misterinya bukan kayak gitu, tapi kita nanti mau pergi ke suatu tempat yang asyik." jawab saya.

Sebenarnya kejutan misterinya itu adalah saya mau ajak Kaka Sasha bermain ke Woody Super Ice Cream. Woody ini adalah toko es krim yang dilengkapi dengan arena bermain anak. Dulu, pernah menjadi lokasi bermain paling hits di era 80-an. Yang bikin seru, arena bermain anaknya ini cukup luas dan GRATIS bu.. ibu...... (cuma es krimnya tetep bayar yaa hehe). 



Saya mencari tau lewat penelusuran google, apakah Woody Super Ice Cream buka hari ini dan buka dari jam berapa. Sayang, informasi tentang lokasi arena bermain anak ini sepertinya kurang update. Beruntunglah, tetangga depan rumah kami belum lama ini kesana dan katanya setiap hari buka kok. Yeaaayy!! Let's go!

Berikut adalah informasi mengenai Woody Super Ice Cream ini :
Alamat               : Jl. Raya Bogor (Dekat Simpangan Depok), Sukamaju, Cilodong, Depok
Jam Operasional : Setiap Hari dari Jam 08.30 s/d 17.00
Tiket Masuk       : Gratis 😍

Saya sarankan bawa bekal minum dan cemilan dari rumah. Lebih seru datangnya weekdays aja karena sepi dan bisa bebas bermain ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dsb. Kalau berkunjung di weekend atau hari libur lebaran (dan tanggal merah lainnya) biasanya ramai pengunjung jadi bakalan crowded. Arena bermain disini juga dilengkapi dengan gazebo, jadi bisa aja santai-santai juga sambil buka bekal. Daaann yang terpenting anak selalu dalam pengawasan ya bun...
arena bermain woody super ice cream
Banyak pohon besar yang membuat rindang sebagian arena
counter es krim woody
Lokasi counter es krim berada dekat pintu masuk
Patung icon woody super ice cream
Foto di Woody Super Ice Cream Icon
Wahana terfavorit Kaka Sasha :)
Bukan jerapah beneran😁
Diajak pulang pun masih minta main lagi
Nah.. gimana??gak kalah seru dengan arena bermain di mall kan? Woody Super Ice Cream ini bisa jadi alternatif pilihan lokasi bermain bersama anak. Yuk aah yang mau ajak anak-anak bermain tanpa membebani kantong... Hidup HEMAT!!!!😀

Oh yaa... untuk emak-emak istimewa kayak saya ini (emak-emak penyandang diabetes) jangan kalap yaaa ngeliat gambar-gambar es krim. Nemenin anak bemain disini malah seharusnya bisa jadi aktivitas fisik yang Insya Allah menyehatkan (karena lari sana sini ngejar anak dong bu..ibu...) 😌

Tetap sehat dan tetap semangat!!!😊

Rabu, 09 Agustus 2017

Berkenalan dengan Insulin

"Jangan pake insulin nanti ketergantungan loh!"
"Kalau pakai insulin nanti pankreasnya manja dan gak mampu memproduksi insulin lagi."
"Si itu... sembuh sakit gulanya.. pake daun kelor"
"Kalau sakit gula ya udah stop aja makan gula, beres kan!

Ini hanya sebagian dari komentar orang ketika tau bahwa saya adalah penyandang diabetes dan rutin injeksi insulin 4x sehari.  Cuma komentar yang terakhir itu bener-bener ngajak berantem hehehe... (nasi yang kita makan pun akan diolah menjadi gula di dalam tubuh kan?)

Memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan injeksi insulin setiap hari memang ga mudah! Saya sempat menolak saran dokter untuk beralih ke insulin. Berbagai kekhawatiran dan pertanyaan muncul di benak saya:
"Saya ga berani nyuntik!"
"Nanti ketergantungan! Emang aman??"
"Pasti nanti repot!!"
"Insulin kan mahal, biayanya??"

Setelah berbagai drama kumbara yang saya lalui saat pertama terdiagnosa diabetes, akhirnya dengan segenap kekuatan yang tersisa (hehe lebay) saya memutuskan menggunakan insulin untuk mengontrol gula darah saya yang ga mau turun-turun itu. Bisa baca kisah awalnya disini Ketika Dokter Salah Mendiagnosa: Ternyata Diabetes!.  Allah SWT menjawab kekhawatiran saya atas harga insulin dapat dibaca disini Reimbursement, ASKES, dan BPJS.

Gambaran saya tentang suntik insulin itu seperti suntik imunisasi anak gitu, (ada suntikan berjarum panjang dan cairannya di botol terpisah) tapi ternyata saya salah! Ternyata designnya modern, jarumnya tipis dan kecil, tak perlu repot-repot membawa suntikan dan cairan terpisah, kalau pergi-pergi cukup taruh di tas atau di kantong pun bisa.  Jenis insulin yang pertama kali saya gunakan adalah NovoMix 30 FlexPen. Ini adalah jenis insulin campuran atau kerja menengah. Injeksi dilakukan 2x sehari, yaitu pagi dan malam hari sebelum makan.  Kurang lebih selama 2 tahun saya menggunakan insulin jenis ini.

Novomix 30 Flexpen
Source : NovoMix 30 Flexpen

Sayangnya, saya belum bisa mengelola diabetes dengan baik meskipun sudah melakukan terapi dengan jenis insulin NovoMix ini. HbA1c masih belum bisa mencapai nilai yang direkomendasikan. Masih berkisar di angka 9%, susyaaaahh banget untuk dpt nilai normal!  Saya akan hipo kalau terlewat makan snack pada jam 10 pagi, dan selanjutnya gula darah akan tinggi setelah makan siang. Meskipun gula darah belum terkontrol dengan baik, tapi ada sesuatu yang membuat saya melonjak kegirangan : berat badan saya berangsur-angur naik (salah satu efek samping insulin adalah berat badan bertambah)!!

Pernah juga dokter mengganti dengan jenis insulin kerja panjang (Levemir).  Ternyata saya makin kewalahan kontrol gula darahnya! Penyuntikkan dilakukan 1x sehari sebelum tidur, namun menjelang pagi saya akan hipo, lalu setelah makan siang hingga malam gula darah tinggi diatas normal.. hiks. Tak lama saya mencoba terapi dengan dosis dan jenis insulin seperti ini, kemudian dokter menggantinya kembali dengan NovoMix.
Levemir Flexpen
Source : Levemir FlexPen
Nah... kemudian barulah saya mengenal insulin basal bolus ketika saya pindah rawat jalan ke RSUP Fatmawati. Saya konsultasi dengan dr. Ida Ayu, Sp.PD, KEMD, dimana beliau adalah dokter endrokrin dewasa (beliau ini ahlinya tiroid dan diabetes).  Sejak saat itu, saya menggunakan insulin kerja cepat/pendek (NovoRapid) dan insulin kerja lambat/panjang (Levemir atau Lantus).  NovoRapid digunakan untuk mengendalikan gula darah setiap kali makan besar (sarapan, makan siang, dan makan malam). Sedangkan Lantus (atau Levemir keduanya sama-sama jenis insulin jangka panjang) digunakan untuk mengendalikan gula darah selama puasa, misalnya saat tidur atau ketika sedang tidak makan (karena hati di dalam tubuh juga menghasilkan gula). Jadi, 4x dalam sehari injeksi insulin dilakukan: 3x jenis kerja cepat dan 1x jenis kerja lambat.

Novorapid Flexpen untuk penyandang diabetes
Penampakan NovoRapid FlexPen

Novorapid dengan jarum novotwist
Saya menggunakan jarum Novotwist untuk pasangan Si Orange

Lantus solostar insulin jangka panjang
Lantus disuntikkan sehari sekali (kalau saya biasanya sore atau magrib)

Jarum BD Ultra-fine 4 mm jadi pasangan Lantus (yg merah2 di tutupnya itu tulisan JKN 😁)

Alhamdulillah... semenjak menggunakan insulin basal bolus, gula darah saya lebih terkontrol. HbA1c pun mencapai target,  dikasaran angka 6%, sesekali pernah juga di angka 5%-an tapi jaraaaang hehe. Bersyukur, bersyukur, lagi lagi bersyukur.

Lalu apa betul insulin ini menyebabkan ketergantungan?  Hmm... mungkin bukan 'ketergantungan' tetapi menambahkan sesuatu yang tidak mampu dihasilkan dalam jumlah yang cukup. Sepertinya lebih tepat menggunakan kata 'kebutuhan' daripada 'ketergantungan'.  Bukan hanya penyandang diabetes, tetapi setiap manusia yang hidup membutuhkan insulin. Ketika pankreas tidak mampu produksi insulin dalam jumlah yang cukup,maka diperlukan tambahan insulin dari luar (informasi ini pernah saya dapatkan dari sebuah seminar tentang diabetes). Untuk penyandang diabetes tipe 1, insulin memang mutlak diperlukan. Berbeda dengan penyandang diabetes tipe 2 yang memiliki beberapa pilihan untuk mengelola diabetes, bisa obat oral, injeksi insulin, berolahraga, dsb.

Yang paling penting dalam terapi insulin ini adalah manajemen diri. Dokter tidak bisa selalu setiap saat memantau kondisi kita (bagi yg penyandang DM yaa). Menjaga kadar gula darah adalah pekerjaan 24 jam sehari, tak peduli kita tidur sekalipun. Kunci utamanya ada di diri kita sendiri. Kita yang tau apa yang kita makan, bagaimana aktivitas fisik kita, olahraga yang kita lakukan, apakah ada stres, sakit, kapan masa-masa haid (khusus wanita), dsb.

Kadang-kadang berat memang kalau mengelola DM hanya untuk kepentingan diri sendiri (suka ga tega ngeliat es krim dan cokelat lumer kalau numpang lewat doang ga dicicip hehe), tetapi kalau didedikasikan pula untuk orang-orang tersayang.. Insya Allah mereka bisa membuat kita istiqomah mengelola DM. Sehat bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang yang kita sayang😍.

Rabu, 02 Agustus 2017

Pasca Keguguran : Tetap Semangat!!

Pasca Keguguran Penyandang Diabetes

Kehamilan yang telah kami nantikan sejak awal tahun 2017 ini akhirnya gugur di usia kandungan yang masih amat muda (5 minggu). Hari pertama setelah dinyatakan kandungan saya dalam proses keguguran (abortus spontan), darah segar terus keluar. Perut rasanya mulas seperti mau haid, tetapi kali ini lebih dahsyat.  Dokter yang menangani saya, dokter Valleria Sp.OG, menyarankan apabila tidak takut darah sebaiknya tak usah dikiret, biarkan saja keluar secara alami. Toh memang sudah dalam proses keluar alias keguguran ketika saya menemui beliau. Ini pertemuan pertama saya dengan dokter Valleria, dan ternyata konsultasi dengan beliau itu asyik dan saya puaass dengan penjelasan-penjelasannya. Beliau bahkan mengingatkan saya untuk tetap menjalankan sholat, karena keguguran yang saya alami ini tidak tergolong ke dalam nifas (terima kasih dok sudah mengingatkan!).

Senin, 10 Juli pukul 10 pagi, keluar darah segar.  Tiga hari sebelumnya memang sudah keluar bercak cokelat tua, namun pada hari keempat yang keluar sudah berupa darah merah.  Darah merah keluar terus dan semakin banyak hingga pada pukul 3 sore kantung kehamilannya keluar. Berhubung usia kandungan masih 5 minggu, yang keluar hanya berupa kantung kehamilan saja, belum ada janinnya. Kantung kehamilan ini warnanya bening dan kenyal jika dipegang, selain dari itu yg keluar adalah gumpalan-gumpalan darah.  Darah terus keluar dan semakin berkurang frekuensinya dari hari ke hari (seperti menstruasi). Hingga hampir 2 minggu barulah tak ada lagi darah keluar. Dokter Valleria memang menyarankan saya untuk kembali kontrol 2 minggu pasca keguguran, untuk mengecek apakah rahim sudah bersih kembali.

Tepat 2 minggu setelah keguguran, saya kembali menemui dr. Valleria untuk memastikan apakah rahim sudah bersih kembali. Pengecekan dilakukan dengan USG Transvaginal. Alhamdulillah, kata dokter sudah bersih, bahkan sudah bisa dibuahi seminggu lagi (kalau ingin segera hamil lagi 😁). Tapi saya jawab nanti dulu dok, mungkin kami rencanakan awal tahun depan. Saya dan suami memang sepakat untuk tidak terburu-buru merencanakan kehamilan lagi.  Sebagai penyandang diabetes, menjaga kadar gula darah agar dalam batas normal memang sudah menjadi rutinitas, tetapi pada saat merencanakan kehamilan, saya harus memastikan nilai HbA1c kurang dari 7%. Jadi paling tidak, saya harus mempersiapkannya 3-6 bulan sebelum program kehamilan. 

Meskipun saat ini saya belum mengecek HbA1c, tapi saya menduga nilainya diatas angka 7% (diatas angka normal) karena kadar gula darah yang semrawut selama hamil. Jadi... hamilnya ditunda dulu. Saya harus memperbaiki pola makan dulu dan berusaha untuk tidak lengah lagi mengontrol kadar gula darah. Kalau HbA1c-nya normal, saya menjadi lebih tenang untuk merencanakan kehamilan berikutnya.  

Sebenarnya, saya sudah cukup baik mempersiapkan kehamilan yang kedua ini. Beberapa bulan sebelum merencanakan hamil,  HbA1c berada diangka 6,5%. Artinya kadar gula darah saya selama kurun waktu 3 bulan terakhir cukup terkontrol dengan baik. Sayangnya, selama kehamilan saya kesulitan mengontrol kadar gula darah, sepertinya ini berkaitan dengan masalah hormonal, selain itu bawaan ibu hamil yang lapeeerrr terus namun sayangnya tidak diimbangi dengan insulin yang cukup. Bahkan hingga selepas keguguran, gula darah ibarat rollercoaster, naik turun tak terkendali.

Resiko keguguran pada penyandang diabetes memang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa diabetes. Tetapi, kalau diabetes mampu dikelola dengan baik dan angka HbA1c sesuai dengan yang direkomendasikan, tentu segala resiko bisa ditekan.  Alhamdulillah, pada kehamilan anak pertama, diabetes bisa terkelola baik dan anak kami lahir sehat sempurna. Keguguran pada kehamilan anak kami yang kedua ini biarlah menjadi pengalaman yang sangat berharga. Mengingatkan saya untuk lebih intensif menjaga kadar gula darah kehamilan (dan juga mengingatkan bahwa saya ini bukanlah wonderwomen yang tak kenal lelah, jadi harus bisa mengatur waktu istirahat sebaik mungkin selama hamil😑). Daaann yang paling penting tetap semangat!!!! semangat jaga kadar gula darah, semangat momong anak, semangat sekolahnya (biar cepat selesai.. Aamiin), semangat jualannya (hehe).

Jumat, 28 Juli 2017

Berdamai dengan Diabetes

Berdamai dengan Diabetes

"Sepertinya mengarah ke diabetes mellitus, tapi nanti kita lihat dulu hasil laboratoriumnya ya" dokter menyampaikan diagnosanya kepada saya. Skema yang terbentuk di pikiran saya tentang diabetes bermunculan. Ayah saya meninggal akibat serangan jantung yang dipicu oleh diabetes, ada pula tetangga saya yang luka di kakinya tak sembuh-sembuh karena diabetes, pernah juga saya membaca kisah seorang ibu yang kakinya diamputasi karena diabetes. Saya bertanya-tanya dalam hati, "Apakah ini tandanya hidup saya tidak akan lama lagi? apa artinya saya tidak bisa hidup normal seperti teman-teman lainnya?"

Sedih, malu, khawatir rasanya bercampur aduk. Sedih karena kata dokter, diabetes belum bisa disembuhkan. Malu karena saya tak mau orang-orang tau kalau saya terkena diabetes. Khawatir karena saya tak tau apakah saya dan Ibu punya cukup uang untuk biaya pengobatannya dan apakah saya masih bisa makan es krim, pecel ayam (laahh???). Tapi setidaknya saya lega mengetahui apa yang terjadi pada diri saya. Saya belum siap mendengar komentar orang-orang, karena itu saya menyimpan ini sebagai rahasia (tapi tetep ajaaaa Si Mamah ga bisa diajak kompromi hehehe).

Selepas itu, banyak saran-saran datang ke kami untuk pengobatan diabetes, seperti brotowali, mahoni, daun kelor, dan entah apa lagi (karena urusan obat-obat tradisional ini Ibu saya yang urus, pokoknya saya tinggal minum, glek..glek..uweeek!! Pait!!). Pengobatan alternatif dengan terapi-terapi juga saya jalani. Mula-mula saya sangat bersemangat dan berharap bisa sembuh, tapi lama kelamaan saya merasa semuanya sia-sia karena gula darah tetap tinggi.  Sebenarnya kadang-kadang saya tak mau mencoba semua saran tetangga dan kerabat, tapi melihat Ibu saya begitu sungguh-sungguh dan berharap anaknya bisa sembuh, sebagai rasa hormat saya kepada Ibu, akhirnya saya jalani juga.

Kebetulan sekali, saat saya terdiagnosa diabetes, saya bekerja di kantor kas bank yang berada di dalam gedung Rumah Sakit Kanker Dharmais. Selama bekerja, saya bisa melihat orang-orang yang sedang diuji kesehatannya datang untuk berobat dengan berbagai kondisi. Saya bisa melihat bahwa apa yang terjadi pada saya patut disyukuri.  Tak baik berlarut-larut menyesali keadaan. Bukankah Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya? Artinya, saya mampu melalui ini.

Saya masih ingat, sekitar 5 bulan setelah terdiagnosa, pikiran saya mulai terbuka. Saya datang ke Gramedia dan mencari buku-buku tentang diabetes.  Salah satu buku yang sangat berkesan adalah buku berjudul "Bersahabat dengan Diabetes" yang ditulis oleh Epie Suryono (yang kemudian saya dapat mengenal beliau secara langsung saat saya berobat rutin di RSUP Fatmawati).  Saya juga memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan insulin, karena berbagai obat oral yang pernah saya konsumsi tidak banyak membantu menurunkan kadar gula darah saya.

Saya mulai berpikir, saya akan menjalani sisa hidup saya bersama diabetes. Saya tak mau merepotkan Ibu dan orang-orang yang saya sayangi dengan mengurus dan memikirkan saya apabila saya sakit-sakitan, jadi saya harus sehat! Saya akan berkeluarga, punya anak, mengurus suami dan anak (mungkin saat itu pikiran saya terlalu jauh, tapi yaa memang begitulah saya hehe) karena itu saya harus sehat! Daaan sehat itu tidak berarti harus sembuh, hidup sebagai penyandang diabetes pun bisa sehat dan melakukan aktivitas seperti orang tanpa diabetes. Kuncinya, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diabetes.


Ada beberapa hal yang saya coba tanyakan kepada diri sendiri :
"Apa yang saya inginkan dengan keadaan seperti ini?" saya ingin sembuh!
"Apa yang saya inginkan setelah sembuh?" saya ingin bahagia, bisa melakukan aktivitas apapun dan makan makanan yang saya suka (contoh: nasi uduk pecel ayam, eaaaa).
"Apa artinya kalau belum sembuh tidak akan bahagia?" Tidak dong, saya tidak ingin seperti itu.
Baiklah, kalau begitu saya langsung saja mencapai tujuan akhir, yaitu bahagia, meskipun belum bisa sembuh. Kuncinya, bersyukur. Tetap ikhtiar, tetap tawakal. Tiada yang tidak mungkin apabila Allah SWT telah berkehendak.

Akhirnya, saya berusaha keras untuk mengontrol gula darah.  Sebagai pemula, ini memang terasa sulit awalnya. Saya merasakan mengontrol kadar gula darah dengan insulin lebih efektif, dibandingkan dengan pengobatan-pengobatan sebelumnya yang sudah saya coba.  Gula darah saya bisa mencapai nilai normal. Wah, senangnya luar biasa! Tugas saya selanjutnya adalah menjaganya agar tetap normal.  Berat badan saya berangsur-angsur mulai naik. Saya mulai membiasakan diri berolahraga. Dan yang tidak kalah asyiknya, ternyata saya tetap bisa makan makanan kesukaan saya (tapi syarat dan ketentuan tetap berlaku yaaa). Ternyata saya tetap bisa beraktivitas seperti orang-orang tanpa diabetes. Bahkan orang-orang tak menyangka kalau saya ini penyandang diabetes. Jadilah, si diabetes yang tadinya nyebelin, eeehhh sekarang malah jadi sahabat asyik!!!


Sabtu, 22 Juli 2017

Ketika Dokter Salah Mendiagnosa : Ternyata Diabetes!

Diabetes usia muda

Tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2010, kondisi kesehatan saya memburuk.  Saya merasa dari hari ke hari tubuh ini melemah, mudah sekali kecapekan.  Awalnya saya tak menghiraukannya, saya pikir mungkin hanya perasaan saja karena tingkat pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi ekstra, tapi kok lama-lama semakin terasa ada yang tidak beres. Puncaknya, saat mengikuti pelatihan Basic Training yang diadakan perusahaan bagi pegawai baru, saya tak sanggup berdiri, selalu muntah ketika mencoba berdiri, pusing, dan mual. Akhirnya teman-teman yang baru saya kenal di tempat pelatihan pun membawa saya ke klinik terdekat. Dokter mendiagnosa saya terkena sakit maag. Obat-obatan yang diresepkan dokter pun saya minum, tapi sakit tak kunjung sembuh.

Sebulan kemudian, karena kondisi tak kunjung membaik, Ibu mengantarkan saya berobat ke klinik dekat rumah, karena lokasi klinik pertama cukup jauh dari rumah.  Dokter menyarankan untuk cek darah (tapi sayang cek darah yang dilakukan tidak termasuk cek kadar gula darah).  Menurut dokter, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa saya sakit tipes. Meskipun telah meminum obat yang diresepkan dokter, anehnya kondisi saya malah semakin memburuk.  Saya pun mencoba obat-obatan alternatif untuk menyembuhkan sakit tipes (sesuai diagnosa dokter) seperti obat cacing. Namun, kondisi saya tetap tak membaik.

Karena kondisi saya semakin memprihatinkan, akhirnya saya dan ibu kembali ke dokter.  Namun kami datang ke dokter yang berbeda lagi. Dokter ketiga ini bisa dibilang dokter keluarga kami, karena sejak saya dan kakak-kakak masih kecil, kami selalu berobat ke dokter tersebut.  Dokter menjawab dengan santai bahwa tak perlu khawatir, ini sakit yang biasa saja.  Dokter tidak memberi informasi lengkap, sakit apa sebenarnya yang saya derita.  Saya pun diresepkan obat, yang kemudian saya minum sesuai anjuran.
  
Sayangnya, resep obat yang ketiga ini pun tidak membuat kondisi saya membaik. Dari hari ke hari kondisi saya semakin parah. Ibu saya mengatakan bahwa badan saya dingin, tapi saya merasakan badan saya panas. Malam hari saya tak bisa tidur tanpa mendekap es batu karena merasa tubuh ini amat panas. Kulit saya pun menjadi sangat kering dan sangaaat bersisik. Saya pun pernah mengompol di kantor (serius, ini memalukan banget!) dan juga mengompol di perjalanan saat pulang kantor.  Saya tak kuat berjalan lama. Pernah saya tak sanggup berjalan dan terduduk di tengah jembatan penyebrangan sambil menahan tangis.

Kakak saya menyarankan untuk berobat herbal.  Saya melakukan bekam dan terapi sengat lebah.  Sang terapis, yang juga merupakan saudara, mengatakan bahwa ada gangguan di saluran kemih (hampiiiir tepat!). Obat-obat herbal yang diberikan pun saya minum, tapi kondisi saya tetap memprihatinkan.  Jika malam tiba, saya akan memanggil-manggil Ibu saya untuk minta disediakan es batu. Lalu es batu itu saya peluk hingga saya tertidur.  Tengah malam saya terbangun karena kaki terasa kram dan tak bisa digerakkan. Berat badan saya semakin turun, dengan tinggi 165 cm, berat badan saya hanya 39 kg. Kurus parah!

Karena tak sembuh-sembuh juga, saya dan ibu kembali ke ke dokter. Saat itu saya berpikir, mungkin saya salah karena selalu datang ke dokter yang berbeda sehingga diagnosa yang ditegakkan menjadi kurang tepat.  Akhirnya, saya dan ibu kembali ke dokter ketiga. Diluar dugaan, dokter mengatakan bahwa penyakit yang saya derita bisa saja berasal dari sesuatu yang nonmedis.  Saya masih ingat ketika dokter mengatakan, "Coba kamu ingat-ingat, apa ada orang yang sudah kamu sakiti? nanti sampai rumah kamu tulis permintaan maaf melalui sms dan dikirim ke semua kontak yang ada di HP ya."  Haaaahhhh???????? kok yaaaa malah bikin saya makin pening.  Dokter pun mengatakan bahwa bisa saja ini karena depresi.  Whaaaatttttt???!!!!!!

Alhamdulillah, esok harinya kakak ipar saya datang untuk membawa saya ke RSUD Pasar Rebo (beruntung bukan dibawa ke orang 'pintar' hehehe).  Sesampainya di RS, kami disarankan untuk datang ke poli spesialis penyakit dalam.  Ternyata antriiiiii booo...... Saya duduk di ruang tunggu sambil bolak balik ke kamar mandi.  Tiba saatnya saya masuk ke ruang dokter, dan seperti biasanya dokter menanyakan keluhan yang dirasa. Disini, Ibu sempat berkata "kayaknya anak saya sering banget buang air kecil dok." Kemudian dokter pun menanyakan beberapa hal yang tepat sekali pada sasaran. "Ada riwayat keluarga yang diabetes? sering haus berlebihan? tadinya berat badan berapa?" Jlepp!! Diabet?? Sakit gula??? Saya????Gubrak!

Dokter menyampaikan sepertinya mengarah ke diabetes mellitus, tapi untuk memastikan akan dilihat dari hasil laboratorium nanti.  Betul saja, hasil lab menunjukkan kadar gula darah 604 mg/dL dan HbA1c >14%. Oya, hasil kolesterol juga agak tinggi yaitu sekitar 230 mg/dL, kata dokter, gula darah dan kolesterol ini ibaratnya temenan, kalau gula darah tinggi kolesterol bisa ikut naik juga.  Berat badan saya turun sekitar 7 kg.  Memang sejak kecil saya kurus (bahkan teman-teman memanggil saya dengan sebutan 'Si Cungkring') dan tambah kurus lagi sejak kena diabet..huhuhu...

Usia saya 22 tahun dan saya terdiagnosa diabetes. Beberapa bulan saya mencoba obat diabetes oral, namun gula darah masih tetap tinggi di atas nilai normal.  Segala macam cara saya coba untuk menurunkan gula darah, mulai dari tidak makan nasi, merebus semua makanan, mengurangi jumlah makan, olahraga, tapi tetap saja gula darahnya bandel tak mau turun.  Sesuai saran tetangga dan kerabat, saya juga minum berbagai jenis daun-daunan yang katanya bisa menurunkan gula darah, menelan biji mahoni yang pahitnya minta ampun, minum rebusan batang pohon mahoni, bahkan rebusan air arang (masih banyak hal lainnya tapi saya lupa). Ikhtiar saya tak sampai disitu, saya juga mengunjungi berbagai tempat pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit (naik turun bus kota sampai-sampai saya dan ibu kesasar). Kalau diingat-ingat kembali, saya suka senyum-senyum sendiri hehe... Hasilnya???gula darah tetap bandel! tetap tinggi!!

Meskipun saya mencoba obat-obat tradisional tetapi saya tetap kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit dalam. Akhirnya, dokter menguatkan saya untuk beralih ke suntikan insulin (karena sebelumnya sudah disarankan untuk menggunakan insulin tapi saya kekeuh ga mau).  Saya masih ingat bagaimana ketika akhirnya saya setuju menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. Dokter mengeluarkan sesuatu seperti pena dari laci mejanya, yang tak disangka-sangka itu adalah insulin pen.  Nanti tentang insulin akan kita bahas sendiri ya.. (tapi sabar ya..tunggu bocah tidur baru bisa nulis hehe).  Kembali ke cerita awal ketika dokter salah mendiagnosa!

Sebetulnya, saya tau kalau saya lebih sering buang air kecil (terutama saat malam hari). Tapi saya menganggap ini bukan keluhan penyakit karena merasa hal ini wajar (toh minum saya memang banyak bahkan sangat banyak) sehingga hal ini tidak saya sampaikan ketika dokter menanyakan keluhan yang dirasa. Saya juga sering merasa lapar yang berlebihan, lagi-lagi saya merasa ini wajar karena saya bekerja. Jadi, saya pikir ini bukanlah suatu gejala penyakit. Enak makan, enak tidur, banyak minum, kok dibilang sakit? hehe.... rasanya tidak seperti gejala penyakit (hehe itulah kenapa diabetes sering disebut juga sebagai 'the silent killer'). Selain itu, saya juga merasa penglihatan mulai kabur, saya tak dapat melihat dengan jelas jam dinding menunjukkan pukul berapa (tapi saya pikir : mungkin saya butuh kacamata!).

Gejala-gejala utama yang seperti ini justru tidak tersampaikan ke dokter dan dokter pun kurang dapat menggali lebih banyak keluhan yang dirasakan pasien.  Akibatnya, yaa seperti yang saya alami, salah diagnosa!  Sebenarnya, saya bukanlah orang yang baru mendengar istilah 'diabetes'. Ayah saya wafat di usia 58 tahun (tepatnya 8 tahun sebelum saya terdiagnosa diabetes) karena serangan jantung yang diduga dipicu diabetes yang dideritanya beberapa tahun terakhir. Obat-obatan untuk diabetes selalu tersedia di meja makan kami.  Ayah pun sering berpesan kepada kami, anak-anaknya, agar jangan berlebihan mengkonsumsi yang manis-manis karena diabetes itu menurun.

Meskipun tidak terdengar asing di telinga saya, sayangnya saya tidak membekali diri dengan pengetahuan seputar diebetes.  Harusnya saya bisa lebih waspada, karena dengan riwayat keluarga yang terkena diabetes, saya memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes. Tapi siapa sangka saya terdiagnosa di usia muda? bukankah selama ini setau saya yang sakit gula adalah orang-orang yang sudah tua saja? Barulah saya tau ternyata diabetes itu tidak mengenal usia, muda atau tua, bahkan bayi saja ada yang terkena diabetes. Jadi, jangan pernah mengabaikan gejala-gejala seperti yang saya sebutkan diatas! Yuk, segera cek ke dokter! Bahkan jika memang memiliki resiko tinggi terkena diabetes, tak ada salahnya mengecek kadar gula secara berkala👌.

Rabu, 19 Juli 2017

Reimbursement, ASKES, dan BPJS


Saya pernah menjalani ketiganya untuk pengobatan diabetes. Saya membutuhkan insulin untuk mengontrol kadar gula darah saya, dimana harga insulin itu tidak murah (baca : mahal) bagi saya. Jadi, tunjangan kesehatan memang sangat membantu saya untuk menekan biaya kesehatan setiap bulannya. Karena selain insulin, masih ada kebutuhan lainnya seperti jarum untuk insulin pen, strip glukometer, alcohol swab, jarum lancet, dsb yang memang harus saya anggarkan setiap bulannya.  Saya ingin berbagai pengalaman saya sewaktu menjalani pengobatan dengan menggunakan sistem reimbursement, ASKES, dan BPJS 😊

Reimbursement
Saya berusia 22 tahun saat pertama kali terdiagnosa diabetes di tahun 2010.  Baru beberapa bulan lulus kuliah.  Bersyukur, saya tidak lama menganggur. Lamaran online yang saya tujukan ke salah satu bank syariah berbuah manis. Setelah menjalani rangkaian prosedur penerimaan pegawai, saya dinyatakan diterima. Senangnya bukan main! Tak berapa lama setelah kebahagiaan itu pun, saya terdiagnosa Diabetes Mellitus (atau orang awam lebih mengenalnya dengan 'sakit gula'). Saya yang saat itu berstatus sebagai pegawai kontrak, mendapat fasilitas tunjangan kesehatan berupa penggantian uang kembali dari biaya pengobatan yang sudah dikeluarkan (reimbursement, atau 'rembes') sebesar 90% dari perusahaan tempat saya bekerja.

Dengan fasilitas kesehatan seperti itu, saya lebih leluasa memilih dokter dengan jam praktik yang dapat disesuaikan dengan waktu luang yang saya miliki.  Rumah sakit juga bisa saya tentukan sendiri.  Tagihan pengobatan saya bayar dengan uang pribadi.  Setelah itu, klaim ke perusahaan dapat diajukan dengan menyerahkan bukti pembayaran.  Biasanya, penggantian akan cair di bulan berikutnya sebesar 90% dari total biaya yang telah dikeluarkan, sisanya yang 10% yaaa dari kantong sendiri.  Gaji saya saat itu hanya cukup untuk ongkos sehari-hari, beli pulsa, dan menutupi biaya pengobatan yang 10% itu. Jadi, dengan segala kebutuhan yang ada, saya tetap memilih rumah sakit yang harganya bersahabat sehingga dapat menekan biaya yang 10% itu he..he..

Sebagai pegawai baru (dan masih kontrak pula), saya seringkali sungkan ketika mengajukan klaim biaya pengobatan terus-menerus setiap bulan ke kantor.  Mungkin memang karakter saya yang orangnya 'gak enakan' dan berpikir bahwa diluar sana banyak orang yang siap menempati posisi saya dengan kualifikasi yang lebih baik dari saya tanpa membebani perusahaan dengan tagihan-tagihan biaya pengobatan setiap bulan.  Saat itu besaran biaya yang seringkali saya ajukan berkisar Rp. 600.000-an setiap bulannya.  Terlebih lagi saat itu, saya masih sangat tertekan dengan diagnosa dokter dan masih penyesuaian asupan sehari-hari yang tidak melebihi kebutuhan kalori harian saya.  Saya juga malu apabila teman-teman di kantor tau kalau saya adalah penyandang diabetes. Hah?? kena gula? masih muda? emang makan apa sih? biasanya begitu pertanyaan orang-orang ketika tau aku punya sakit gula. Rasanya malu dan sedih (tapi sekarang sih udah ga gitu lagi, malah udah asyik bersahabat dengan diabetes).

ASKES
Rasanya sudah tak sanggup menjalani hari-hari yang terasa berat saat itu. Doa-doa tak pernah terlewat untuk dipanjatkan agar diberikan jalan terbaik oleh-Nya. Alhamdulillah.. jawaban itu datang dengan berita : saya lolos tes CPNS di akhir tahun 2010.  Percaya ga percaya bisa lolos CPNS dengan saingan yang begitu banyaknya, apalagi saya memilih wilayah penempatan Jabodetabek yang formasinya kecil dengan pendaftar yang paling banyak dibanding wilayah lainnya. Kalau bukan karena campur tangan Allah SWT, rasanya tak mungkin bisa lolos.  Saya pun memutuskan untuk memilih menjadi abdi negara dibanding menjadi banker

Dan satu hal yang tidak kalah menggembirakan adalah ASKES bisa dimanfaatkan oleh CPNS, yang notabene belum 100% menjadi PNS.  Saya pun segera mengurusnya.  Ternyata untuk memanfaatkan ASKES ini, berbagai prosedur harus dilalui dan cukup membutuhkan banyak waktu untuk mengurusnya.  Saya pasti akan izin tidak masuk kerja kalau waktunya kontrol ke dokter. Begini prosedurnya:
  1.  Saya meminta rujukan dari Puskesmas terdaftar untuk ke Rumah Sakit, karena pengobatan untuk diabetes tidak bisa dilakukan di Puskesmas.
  2.  Lalu, hari berikutnya saya datang ke RS pagi-pagi sekali (saya usahakan jam 6 sudah tiba di RS), lalu menunggu antrian di loket ASKES.
  3. Setelah dari loket ASKES, dilanjutkan mengantri lagi dipoli untuk ditimbang, ditensi, lalu menunggu panggilan masuk ke ruang dokter.
  4. Lanjut lagi antri di apotek untuk tebus resep dokter. Biasanya saya ke apotek rumah sakit, namun ada pula RS yang bekerja sama dengan apotek lain agar pasien punya beberapa pilihan untuk mengambil obat, namun biasanya pilihannya hanya sedikit.
Saya harus meluangkan waktu seharian di rumah sakit untuk melalui prosedur dari poin 2 hingga 4, dari pagi sampai sore.  Biasanya saya baru bisa pulang antara pukul 14.00-16.00. Sejak pertama saya memanfaatkan ASKES pada tahun 2011 hingga 2013 (karena BPJS berlaku sejak 1 Januari 2014), saya sudah 3x pindah RS : RSUD Pasar Rebo, RS Marzoeki Mahdi Bogor, dan  RSUP Fatmawati.  Kalau di RSUP Fatmawati malah harus booking sebulan sebelum kontrol agar dapat kuota.

BPJS
ASKES berubah menjadi BPJS sejak 1 Januari 2014. Saat itu saya kontrol rutin bulanan di RSUP Fatmawati.  Saya betul-betul merasakan rumitnya prosedur BPJS saat awal diberlakukannya. Sampai saya mengeluh mengapa sudah nyaman dengan ASKES (karena sudah terbiasa dengan prosedurnya) harus diganti dengan BPJS yang kok sepertinya lebih rumit? dan sampai-sampai saya baru bisa pulang dari rumah sakit menjelang Maghrib. Tapi ternyata berbagai perbaikan dilakukan, semakin lama prosedurnya lebih mudah.  Berbagai kemudahan yang saya rasakan antara lain :
  1. Saya bisa berobat rutin setiap bulan ke rumah sakit (yang bekerja sama dengan BPJS) terdekat dari rumah tinggal saya.  Jaraknya hanya sekitar 2,1 km dari rumah, daripada ke RSUP Fatmawati yang membutuhkan waktu 1,5-2 jam perjalanan.  
  2. Awalnya, saya terdaftar di Puskesmas untuk Faskes Tingkat 1, dimana antriannya cukup panjang. Dengan BPJS, saya bisa pindah ke klinik pratama rawat jalan yang sangat dekat dari rumah, cukup dengan berjalan kaki saja dan disana pun tak perlu mengantri sepanjang antrian di Puskesmas. 
  3. Karena insulin tidak tersedia di apotek rumah sakit, maka saya dapat menebus insulin (resep dokter) di apotek kimia farma. Pilihannya pun cukup banyak tersebar di kota tempat saya tinggal, dan saya pun memilih apotek yang cukup dekat dengan rumah.  Resep dokter berlaku hingga 7 hari (seminggu) sehingga saya dapat menebus obat dengan menyesuaikan waktu luang saya selama tak lebih dari seminggu ke depan.
  4. Selain itu, saya tak perlu setiap bulan memperbaharui rujukan, karena dengan adanya DPJP, selama masih berlaku, saya dapat langsung mendaftar di RS tanpa harus ke Faskes Tingkat 1. Nanti setelah masa berlaku DPJP habis, baru saya akan memperbaharui lagi rujukannya.  Selama ini, DPJP yang diberikan dokter untuk saya yang merupakan penyandang diabetes, bisa berlaku selama 3-6 bulan (tergantung dokter). 
Fasilitas kesehatan yang dekat dari rumah memang memudahkan saya dalam berobat. Reimbursement memang praktis, tapi saya tak sampai hati kalau harus mengajukan klaim ke kantor setiap bulan (atau saya saja yg terlalu lebay 😁).  Kalau ASKES, saya lebih tenang, karena tak perlu merepotkan HRD setiap bulannya, tapi prosedurnya rumit dan sangat menguji kesabaran karena antrian yang mengular.  BPJS juga masih membutuhkan kesabaran ekstra, tapi jauh lebih memangkas waktu daripada masih menggunakan ASKES. Ini semua pengalaman dan pendapat pribadi saya, mungkin saja tiap orang merasakan hal yang berbeda ketika memanfaatkan ASKES dan BPJS dan punya pendapat yang berbeda pula. Silakan saja, boleh sharing! 😉





     

Sabtu, 15 Juli 2017

Keguguran di Usia 5 Minggu

Sebagai penyandang diabetes, saya sudah membekali diri dengan berbagai informasi seputar kehamilan dengan diabetes. Namun sayang, kehamilan kali ini memang tidak mendapat perhatian ekstra seperti pada anak pertama kami.  Di usia si kakak yang belum genap 3 tahun (tepatnya 2 tahun 7 bulan), perhatian saya terbagi-bagi : mengurus si kakak, menjaga kehamilan, mengontrol gula darah, mengerjakan tugas kuliah, dan pekerjaan rumah lainnya.  Akibatnya, saya kelelahan.

Puncaknya pada Kamis, 6 Juli 2017, saya janji dengan si kakak akan menyewa perosotan di tempat langganan kami sewa mainan anak. Saya putuskan untuk mengambil sendiri perosotannya karena lokasinya tidak jauh dari rumah kami.  Setelah mengambil perosotan, saya tidak langsung pulang, melainkan menuju ke Rumah Tahfidz dimana keponakan saya akan belajar disana. Sepulang dari sana, saya mengalami kecelakaan ringan. Mobil yang saya bawa menabrak tembok rumah orang :(

Kaget. Berdebar-debar. Lelah.

Setelah kejadian itu pun masih banyak yang harus diurus, termasuk mobil yang dibawa ke bengkel. Rasanya tubuh ini kuat-kuat saja. Ibu Mertua saya panik, menyarankan untuk segera ke dokter kandungan, tapi saya jawab "Ga apa-apa kok mah, semuanya Insya Allah baik-baik aja."

Hingga esok harinya, hari Jumat siang, keluar flek cokelat sepanjang bagian bawa celana dalam.  Saya dan suami segera ke dokter kandungan malam harinya. Dokter tidak memberi resep penguat kandungan, saya disarankan bedrest, dan diberi vitamin berupa Folamil Genio dan Folavit.  Beliau mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan kecelakaan kemarin, mungkin kelelahan.  Sayangnya, gula darah pun tidak terkontrol (lihat gambar: abaikan tanggal dan jam yang tidak sesuai).  Berbeda dengan kehamilan si kakak yang mulai sulit mengontrol gula darah di trimester akhir, kehamilan kali ini saya kesulitan mengontrol kadar gula darah. Mungkin karena kemauan makan yang meningkat, namun dosis insulin tidak disesuaikan dengan kondisi tersebut, ditambah pula saya lengah mengecek kadar gula darah sehingga sering terlewat.

Gula darah tinggi
Kadar Gula Darah Tinggi saat Hamil Muda 


Esok harinya, hari Sabtu, 3 kali flek cokelat tua keluar lagi. Sulit bagi saya untuk benar-benar hanya tidur, makan, dan solat.  Setiap kali saya beraktivitas, seperti menyuapi dan gendong si kakak, flek akan keluar. Saya memang tidak istirahat total seperti yang disarankan dokter.  Hingga hari Minggu, flek masih saja keluar, warnanya sudah mulai agak kemerahan. Saya pun segera menghubungi rumah sakit untuk jadwal kontrol di Senin pagi.

Senin pagi, sekitar pukul 10.00 WIB, keluar darah segar.  Kami datang ke dokter kandungan yang berbeda dengan sebelumnya, karena beliau tidak ada jadwal praktik pagi itu. Setelah di USG dari perut, dokter mengatakan bahwa sudah dalam proses keguguran.  Pemeriksaan dilanjutkan dengan USG Transvaginal. Karena usia kandungan yang masih muda, dokter tidak bisa memastikan penyebab keguguran tersebut apakah karena Blighted Ovum (BO), atau karena kelelahan, atau karena faktor lain misalnya karena kadar gula darah yang tidak terkontrol.  Untuk memastikan BO, setidaknya usia kandungan harus 8 minggu.

Keguguran secara alami tanpa ada obat-obatan yang diresepkan.  Dokter mengatakan "ga takut darah kan? ga usah di kiret ya, ini sama aja kok kayak persalinan normal." Vitamin disarankan tetap diminum karena saat banyak keluar darah, saya akan membutuhkan tambahan zat besi. Proses keguguran berlangsung di rumah, tidak perlu rawat inap.  Perut terasa mules seperti mau menstruasi namun lebih kuat rasa mulesnya. Sore harinya, Senin, 10 Juli 2017, sebelum adzan Ashar, keluar kantung kehamilan berwarna bening dan kenyal jika dipegang.

Saya hanya bisa menangis, namun ketika melihat suami dan si kakak, senyum pun mengembang kembali. Seharusnya sebagai penyandang diabetes yang memiliki resiko-resiko kehamilan, saya bisa menjaga kehamilan dengan lebih intensif. Tubuh ini memang rasanya kuat-kuat saja melakukan ini itu, tapi nyatanya kehamilannya tidak kuat.  Manusia hanya bisa berencana, tetap Allah yang menentukan.  Allah yang Maha Mengetahui jalan terbaik untuk makhluk-Nya.

Diabetes Basah atau Diabetes Kering???

When I tell someone, I have diabetes.... "Diabetesnya basah apa kering???" Wah.. ini tanggapan sekaligus pertanyaan sepert...